Entri Populer

Kamis, 15 Desember 2011

Pagi Terakhir


...

Seperti biasa,
jendela lentik berbinar pada risau
kerak congkak luntur di usia
setia pada hangat dan gigil
menjaga pemilik cinta dari baliknya
            Seperti biasa,
aku menjemput dengan raut
            mengintip dari sela-sela kerikil
            si jasad miskin ingin rujuk dengan takdir
            mencinta cinta sampai akhir
Sudikah kau membuka pintu angkuh itu?
sambil membawa secangkir teh hangat
dan menuangkannya pada dahaga yg sangat?
atau tetap saja si cumbu mesra pada cibir
tetap seperti serdadu lumpur yang mengiba pada pengantin pasir
Pagi terakhir, untuk mengasihani harap
apakah akan terdengar lagi dawai biola yang kau petik kemarin
dan setia menjadi teman tidur setiap purnama?
atau pupus pulang menggandeng simpan
merayakan sepi bersama mereka yg memuja hujan.
...


Rabu, 14 September 2011

Cerita Kecil untuk Tuhan Part II

“Bumi, bangun Nak! Kita shalat subuh dulu!”  Suara Mak Isah parau.
Aku menggeliat. Membetulkan urat leher yang kaku terbentur gigil sejak malam tadi.
“iya Mak” Jawabku sambil mengumpulkan kesadaran, sisa mimpi semalam mulai menguap.
Aku bergegas hendak mengambil air wudhu di sumur yang terletak di belakang rumah. Namun rupanya Ember itu telah penuh terisi air. Mak Isah menyiapkannya untukku.
Aku hanya tinggal berdua dengan Mak Isah. ”Bumi” adalah nama yang disematkan Mak Isah padaku. Aku pernah bertanya mengapa Mak Isah memberiku nama “Bumi”. Dengan lirih mak Isah menjawab  “Mak ingin kamu menjadi  tempat yang melahirkan para rasul dan nabi, menjadi daratan yang di pijak para syuhada, menjadi udara yang di hirup Maryam, menjadi ladang dari para solihin”
Hatiku bergetar. Aku kembali bertanya “Bukankah bumi juga menjadi tempat bagi syetan dan iblis untuk menggoda manusia, Mak?”
Mak Isah tersenyum.
“Kamu adalah bumi yang dititipkan Allah untuk emak, emak ingin kamu menjadi bumi yang hanya di huni khalifah fisabilillah , bumi yang mejadi tangga untuk surga”.
Hatiku gerimis, haru.
...
Seperti biasa pagi ini aku memikul tempayan, berisi bermacam-macam kue pasar buatan Mak Isah. Aku berkeililing dari satu rumah ke rumah yang lain, tawar menawar pada rizki. Aku selalu ingat pesan mak bahwa sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dalam perdagangan. Sebenarnya aku kurang begitu mengerti, apa kita di suruh untuk berdagang? Makmur sekali orang-orang yang berjualan di pasar. Tapi kelihatannya tidak begitu.
Pagi aku berjualan, siangnya aku bersekolah. Aku beruntung masih bisa belajar trigonometri, sudah paham reaksi kimia asam basa, tidak lagi hanya tentang berhitung 1+1=2 atau mengeja i-n-i  i-b-u  b-u-d-i. Walau bersekolah di tempat yang amat biasa, tapi tak apa yang penting bersekolah! Kalimat yang begitu agung bagi anak-anak tukang sampah. Sekali lagi aku masih beruntung.
Sementara mak Isah sendiri bekerja dari subuh sampai menjelang magrib. Bekerja apa saja asal itu halal. Dari mulai kuli cuci, menjual kue, membersihkan makam sampai mengasuh bayi tetangga. Aku ingin sekali menggantikan Mak Isah bekerja, tapi ia melarangku. Tugasku cukup berjualan kue dan belajar saja, katanya.
Mak isah menggadai peluh demi biaya untuk ilmu yang kutuntut. Dua hal yang terpenting baginya adalah kesehatanku dan cita-citaku. Ia rela melucuti tulang belulangnya demi dua hal itu. Aku sangat menyayanginya dan ia pun sangat menyayangiku. Aku merasakan itu.
...
Sore itu menjelang maghrib seperti biasa Mak Isah tengah duduk-duduk di teras rumah, bersandar pada kayu yang telah lapuk. Ia beristirahat. Bau keringatnya selalu aku rindukan . Aku duduk di sampingnya, sambil memijat-mijat kakinya yang sudah menghitam, gosong terbakar sengat.
“Nak, ada PR dari sekolah?” Tanya Mak Isah.
“Ada Mak, nanti malam Bumi kerjakan” Jawabku datar.
“Bagaimana sekolahmu? Apa ada iuran yang belum kau lunasi? Masih ada buku yang harus di beli lagi, Nak?” Tanya Mak Isah halus.
“Insya Allah semua lancar-lancar saja kok Mak, tidak perlu ada yang Mak khawatirkan!” Aku menenangkan.
“Nak, kamu masih percaya pada cita-citamu kan?” Mak Isah membalikkan badan.
“Iya Mak” Jawabku lirih.
“Syukurlah, karena cita-citamu adalah cita-cita Mak” Mak isah menatap ku dalam-dalam.
Aku menghela nafas panjang. Senja masih merah. Biarlah aku menikmati sebentar lagi saat-saat pelarian ini, saat-saat candu bersama Mak. Saat saat saling menguatkan lewat tatapan cinta. Nafas Mak kurasakan masih hangat, seperti dahulu, tak pernah ada yang berubah sedikitpun. Hatiku teduh.
...
Baru sekali dalam seumur hidup ku Mak Isah alfa untuk membangunkan aku shalat subuh. Ada apa gerangan ?
Ku lihat wajah Mak Isah pucat, ku sentuh tangannya dingin, ku usap keningnya basah berpeluh. Mak Isah terbaring dengan menelungkupkan kedua tangannya, gigi rentanya gemeretak, matanya semakin terlihat sayu. Badannya bergetar gigil.
“Mak, kenapa Mak? Mak !” Aku khawatir bukan main.
Tak ada jawaban dari mak Isah, selain erangan dari jasad yang pesakitan itu.
“Mak ! kenapa?! Tolong ! Toloooong !!” kekhawatiranku semakin membuncah.
Aku meledak ledak, dengan segera aku membopong Mak Isah. Pikiranku sudah kacau! Rumah sakit ! harus segera di bawa kesana. Sekarang juga.
Dengan nafas terengah aku terus berjalan sambil terus menggendong jasad Mak Isah yang mulai kaku. Kemana orang-orang?! Memang pagi masih sangat buta, tapi kenapa orang-orang ini mesti tuli juga! Lelap membuat hati mereka lumpuh !
Sekuat tenaga aku menyeret kakiku, hingga sampai ke jalan besar. Tanpa pikir panjang aku berdiri di tengah jalan. Aku ingin memberhentikan apa saja yang bisa di jadikan tumpangan. Dengan segera sebuah mobil bak terbuka yang membawa sayur-sayuran berhenti di depanku.
“Hh.. hh.. Pak. Tolong.. hh pak.. rumah sakit !!” Aku memohon sambil tersengal-sengal.
Sepanjang perjalanan tak pernah henti doaku untuk emak sambil mengusap-usap keningnya yang tua.
....
20 menit kemudian.
“Maaf dek, kita berbeda arah sekarang. Di sini saja ya! Tuh di depan ada puskesmas ! Periksa di situ saja!” Sambil menunjuk ke arah sebuah puskesmas kecil yang terletak di ujung jalan.
“Ta.. tapi pak... “ Sergah ku.
“Periksa di situ saja, kita ini orang susah tak perlu macam-macam ! Sudah untung saya mau mengantarkanmu gratis !” Gertak supir itu.
“Baiklah, terima kasih” Aku turun sambil terus menggendong mak.
Sesampainya di puskesmas aku meminta bantuan kepada siapa saja yang ada di sana. Beberapa orang membantuku.
“Suster tolong ! Di mana dokternya? Di mana?!” Tanyaku pada seorang suster yang tengah berbaring di kursi malas.
“Hhoaam.. Dokternya belum datang, nanti saja jam 7 kesini lagi” jawab suster itu sambil terkantuk-kantuk.
“Tolong !  Lakukan apa saja untuk mak, apa saja ! Cepat !!” Aku mulai emosi.
“Duduk saja dulu di ruang tunggu ! paling-paling hanya demam, tunggu saja dokternya datang!”
Aku menahan emosiku, ku baringkan Mak di kursi panjang di ruang tunggu. Aku menunggu sambil berharap-harap cemas. Nadi mak kurasa kian lemah.
Satu jam kemudian seorang laki-laki paruh baya datang,  ia mengenakan jas serba putih sebagaimana dokter-dokter pada umumnya. Dengan segera aku menghampirinya.
“Dok, tolong dok! Cepaaat !” Sambil memegang tangannya.
Ia tersentak, namun tidak langsung beranjak. Ia memperhatikan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia berkata,
“Punya uang berapa, Nak?” Tanya dokter itu.
Aku menggeleng.
“Asuransi kesehatan punya?” Tanyanya lagi.
Aku menggeleng lagi. Sesaat kemudian aku tersadar, ia tengah menghina kemiskinanku ! tapi sekuat tenaga aku menahan emosi, aku sudah terbiasa di perlakukan seperti ini. Dengan segera aku berlutut di hadapannya, ku cium sepatunya yang hitam mengkilat, aku menangis tersedu-sedu.
“Dok yang penting tolonglah mak ku dulu, periksa penyakitnya. Akan ku lakukan apapun untuk membayarnya! Apapun! Tolong kami, Dok! Ku mohon.. Ku mohon!”
“Baiklah, bawa ke ruangan saya”
...
Dokter memeriksa mak ku di ruangannya. Aku menunggu di luar ruangan sambil terus bertasbih memohon pada sang Maha Hidup ! tampak suster lalu lalang di depanku, keluar masuk ruangan itu. Sepertinya tampak panik.
Belum genap 15 menit aku menunggu, dokter itu keluar. Ia tertunduk.
“yang tabah Dik”
Mata ku gelap, aku menghajar dokter itu sejadi-jadinya ! dan menghancurkan segala benda yang ada di dekat ku.
Aku tak pernah tahu kalau selama ini mak Isah mengidap penyakit yang begitu parah. Tak pernah sekali pun Mak isah menceritakan sakitnya itu pada ku, tak pernah ! Ia yang selalu memperhatikan aku, mengusap air mataku, mengembangkan senyumku, membelai keluh kesahku sampai-sampai lupa pada jasadnya sendiri.
Ku lihat wajah Mak lekat-lekat, sepertinya dia begitu muda. Sangat cantik. Air mukanya jelita. Mak Isah wafat di usia 74.  hatiku karam. Jika orang menyebut bahwa hidup seperti roda yang berputar maka aku tidak akan mengamini itu. Susah payah aku menahan layar dengan Mak sebagai nahkoda ku tapi samudera jua lah yang menenggelamkannya. Aku terdampar pada palung derita tak berujung, tersesat pada rimba gulita. Dan kini, aku menyerah pada kesebatang karaaanku, mencaci kelahiranku !
...
Dari balik jeruji besi, aku mengurung diri pada dunia. Ini keluh kesah untuk Mu wahai Zat penidur maut, air mata ku telah kering untuk menggoda-Mu. Terimalah dan bacalah surat ku, aku tunggu balasan-Mu...

Minggu, 07 Agustus 2011

Cerita Kecil untuk Tuhan..

  
Hari itu Desember akhir,
Pagi masih buta sekali, dunia masih tertidur di temani gerimis yang sejak malam hari merayu siapa saja untuk tetap menggeliat dalam hangat selimutnya terbuai dalam mimpi absurd sebagai pelarian dari kelaparan. Itulah kami, kaum marginal yang sering di anggap rendahan.
Malam itu aku terbangun dari tidur yang tak lelap. Mataku terjaga memandang bilik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman kayu sederhana, terkelupas di sana sini, warnanya kusam coklat kehitam-hitaman sampai semut yang melawatinya pun pasti akan berhati-hati, takut terjeblos karena memang kayu itu sudah renta, bahkan di beberapa bagian sudah berlubang, memang tidak heran pasti karena di gerogoti waktu selama 20 tahun lebih.
Lampu tempel yang hitam dan mengeluarkan bau pekat itu merupakan satu-satunya penerang dalam kamar ini selain cahaya bulan yang diam-diam mengintip dari celah yang basah, letaknya terkatung di dinding bersebelahan dengan kain lap kering dan tumpukan perkakas hampir rusak yang di simpan tak beraturan dalam karung, tak ada barang berharga, sama sekali! Tapi semuanya bermanfaat, paling tidak menurut ku. Sisanya hanya barang rongsokan yang beberapa tahun terakhir ini aku sebut "harta". Sebagian tanahnya tergenang karena langit-langit kamar tak kuasa bernegosiasi pada hujan, 1 ember 2 baskom dan 4 mangkuk bahkan tidak mampu menampung jatuhnya air yang tercecer di mana-mana, aku pasrah. Biarlah tanah meminum air hujan itu. Kamar yang sederhana saja, bahkan aku sangsi apakah ini bisa di sebut kamar?
Aku merebahkan tubuh yang kumal ini pada selembar tikar usang dengan rambut gimbal di topang tangan sebagai bantalku dan udara dingin sebagai selimutku, biarlah malam memelukku. Sunyi. Pikiranku mengawang, aku melamun tapi terjaga, meraba bayangan silam yang tak akan pernah aku lupakan. Kepingan sajak, puluhan cerita dan aklamasi puisi mungkin tak akan cukup mereka kisahku. Dan aku membenci kisah ku, hidup ku.
14 tahun sejak aku terbuang dari penciptaan yang tak pernah aku inginkan, aku di damparkan pada bumi lewat wanita yang sampai sekarang aku tidak tahu rimbanya bahkan tak tahu namanya. Jika orang menanyakan di mana aku lahir, sungguh aku tak sanggup menjawabnya. Aku tidak tahu aku di lahirkan yang aku tahu aku di campakkan, di buang dan kemudian di pungut ! Paling tidak begini yang di ceritakan mak Isah padaku.
Hari itu malam Jum’at pada penghujung Desember, sama dengan hari ini tapi aku tak tahu tanggal berapa. Hujan mencumbu bumi. Langit kelam dan mengancam. Tidak seperti biasanya kota metropolis ini dilumat dingin, sedingin penduduknya. Siapa saja pasti ingin berhangat-hangat dengan kasur empuk dan menggeliat dalam selimut.
Sudah pukul 02.00 dini hari tapi kota metropolis ini masih terbangun. Orang-orang masih ada yang hilir mudik mencari atap untuk sekedar berteduh. Begitupun dengan mak Isah. Perempuan paruh baya ini tergigil di pojok emperan toko, kakinya di silangkan dengan kedua tangan mendekap pada dada, giginya bergetar beradu, kepalanya tertunduk, matanya terpejam namun hatinya terjaga, ia berdoa.
Gerimis sudah reda, hanya beberapa jam mak Isah tertidur. Perut laparnya tak kuasa ia tahan. Mak Isah tergopoh membawa jasad yang pening mencari apa saja yang bisa ia makan, di mana saja ia menemukan. Sudah 2 tempat sampah ia lakoni, tapi hasilnya nihil, perutnya kian berontak. Di tengah perjalanannya menyisir puing, sayup terdengar suara tangis bayi. Ia tersenyum, barangkali ia bisa meminta sesuatu pada si Ibu pemilik bayi yang mungkin tengah terjaga. Mak Isah tertatih mencari sumber suara tersebut, namun justru suara itu menuntunnya pada sebuah gang kecil yang gelap. Suara itu kian nyaring.
“Astagfirullah, bayi siapa ini?!”  matanya melotot demi mendapati sorang bayi yang masih merah pada sebuah kardus mie instant, ia terbalut selimut tipis.
Dengan segera mak Isah menyadari bahwa bayi itu adalah bayi yang di buang, semula ia akan melaporkannya pada warga setempat. Namun mak Isah mengurungkan niatnya. Ia akan merawat dan membesarkannya di kampung halaman yang telah lama di tinggalkan, ia ingin pulang dan membentuk keluarga kecil di sana. Ya keluarga, sebuah kata yang sangat ia rindukan sejak 18 tahun yang lalu. Ia sebatang kara. Paling tidak saat ini ia tahu untuk apa ia hidup. Sayup adzan subuh berkumandang. Batinnya bergemuruh.
Aku menghela napas, menyumpahi hidup ku. Ku ambil secarik kertas. aku ingin sedikit mengeluh pada benda mati itu lewat tulisan sederhana. Gerimis belum juga reda.


Di Ujung Senja

Kayu layu ayu..
getah nanar petuah sang mpu
terjilat kaki-kaki kecil semut hilir
sudah sejak 12 windu yang lalu
berbisu sampai tak berbusa..
kakinya renta...
            Kayu layu ayu..
            urat berurat melepas tua yang sangat
            sekelilingnya? Acuh saja dengan taat
            baginya bumi khianat pada kompromi
            langit sakit tertular zaman edan
            sisa umurnya sedu sedan..
kayu layu ayu..
kulitnya tengik di serang terik
sekuat asa bersandar pada tanah yang haus
ternyata teman sejatinya masih tulus
kini baginya maut adalah harapan
hatinya terlampau senja ia tak kunjung datang
            Kayu layu ayu.. usang dan di lupakan
            Sudah sejak 12 windu yang lalu.. kelu..
           






                                                                                                Bersambung….

Jumat, 04 Maret 2011

Siraman Rohani

Kawan-kawan gue Cuma mau share aja mengenai cerita di bawah ini, bukan maksud untuk menasehati, ceramah apalagi menggurui karena gue pun masih belajar. Ini hanya sekedar mengingatkan bahwa betapa meruginya orang-orang yang menyepelekan shalat. Jujur cerita ini jadi cambuk buat gue apabila gue khilaf dalam menjalankan kewajiban. Mari kita sama-sama ambil hikmah dan pelajaran dari cerita ini.. Cekidot..

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah merusak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya. " jawab wanita itu. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa as. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!", teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya,"Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya? " Nabi Musa terperanjat."Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" " Ada !" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?"tanya Musa kian penasaran."Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina". .Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.


Dalam hadist Nabi SAW disebutkan :Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.

Dalam hadist yang lain juga disebutkan bahwa orang yang sengaja meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu (padahal masih sempat untuk mendirikan sholat tanpa harus mengqada), kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. 
Allahu A'lam Bisshawab ..

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy)

Minggu, 20 Februari 2011

Eksotisme perjalanan Karawang-Jatinangor

Hey pernah gak sih lu memandang hidup dari sisi yang lain? Melihat dan menikmati pelajaran dari sebuah kehidupan yang nyata, bukan dari novel fiksi, pentas drama apalagi sinetron cinta ! Sederhananya ibarat melihat sisi durian yang terbelah, tajam berduri di satu sisi tapi kuning menyala lembut di sisi yang lainnya. Kontras bukan?
Ya, itulah yang coba gue tuangkan di cerita gue kali ini.
Sepakat kalo gue bilang rutinitas adalah hal yang membosankan? Kalo lu bilang “ah gak juga” itu urusan lu. Tapi gue yakin lu bakal sampai di satu titik dimana lu ngerasa penat banget dengan rutinitas yang lu jalankan. Kalo ya, maka gue coba mengajak lu berfantasi terhadap eksotisme dunia yang sebenernya ada di sekeliling lu ! Seperti perjalanan gue kali ini antara Karawang-Jatinangor.
Bukan hal yang istimewa sebenernya perjalanan ini, hanya rutinitas biasa “pulang-pergi menuju tempat mencari ilmu yang idealnya manfaat namun bisa saja sesat”.
Sore itu hari Sabtu pukul 16.45
Sudah 10 menit gue menuggu bus jurusan Tasik calon tunggangan gue menuju Cileunyi, seperti sebuah penantian menunggu seseorang yang akan meminjamkan pundaknya dan memapah kita yang tak kuasa berjalan menuju tempat berlabuh, tapi sayang dia tak setia, gue mungkin orang kesekian yang dibawanya, dan parahnya dia berselingkuh disaat yang bersamaan ! dia cuek saja, kurang ajar.
Sore itu mendung, ah angin sore yang mendung memang sepoi amboi, ritmenya tak beraturan namun indah. Seperti musik jazz, dimainkan hanya dengan menggunakan naluri, permainan improvisasi para maestro ! begitu bersahaja.
Akhirnya, rombongan itu pun datang, gerimis yang sesegera mungkin memeluk tanah seolah melepas rindu yang begitu sangat, mula-mula pelan tapi kemudian kian cepat seperti tak sabarnya para serdadu yang bertemu istrinya setelah berpeluh-peluh di medan perang, mereka bercumbu. Ahh sebagian tampaknya nasibnya kurang beruntung, ada yang malah kecantol di baju, celana dan rambut gue, entah gue atau mereka yang sial.
 Gue berteduh di warung. Ada dua pisang goreng terbaring pasrah, gue embat sebagai pelengkap menikmati hujan di keterasingan. Sial gue kebelet pipis, gue pun pipis (walau gak penting juga ague certain).
Bau tanah yang di cumbu hujan emang selalu gue rindukan, baunya khas, menggoda dan kadang getir! Seolah menyihir gue untuk menerawang jauh tentang segala hal yang udah gue lewatin, cukup mistik bukan? Entahlah.
 Gue mengamati sekitar, ada yang berteduh, pacaran, ibu yang menyusui anaknya, anak-anak yang berlari-lari kecil menghindari hujan, melamun, maen gaple, dll. Gue gak kenal mereka dan mereka pun gak kenal gue, tapi mereka ibarat sketsa yang tergambar absurd di mata gue, inilah karya ilmiah kehidupan !
Akhirnya, bus yang di tunggu itu pun datang. Segera gue masuk menjelajah dimana saja kursi yang dapat gue singgahi, ya sebelah kiri jok dua kursi jajaran tengah, gue memilih duduk di situ. Tahukah kau kawan mengamati orang-orang yang berjejer duduk terorganisir di bus adalah hal yang monoton! Kebanyakan dari mereka cuek, acuh tak acuh, sibuk dengan imajinasinya masing-masing. Sangat komunal! Tapi, di balik itu sebenarnya mereka adalah orang-orang yang senang di ajak bicara, ya seperti orang Indonesia kebanyakan, senang berbicara. Gue duduk sendiri.
Gue melihat jam, saat itu pukul 17.05. Saat itu pula gue pastikan bahwa 5 menit kedepan gue sebagai penumpang akan di suguhi pertunjukan musik jalanan, dan koridor bus itulah panggung mereka. Benar saja, seorang pria setengah baya masuk, sambil menenteng gitar tua yang di tempeli microphone kecil, penampilannya sederhana saja, kaos oblong berwarna abu-abu, celana pendek belel, dan sandal jepit murahan. “selamat sore bapak sopir, bapak kondektur dan penumpang sekalian. Berjumpa kembali dengan kami para musisi jalanan.. dan bla bla bla.. baiklah berikut sebuah lagu miliknya Ebiet G. Ade..
Sayup suara pengamen yang cukup merdu itu mengantar kami dalam perjalanan..
“… munkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.. “ begitulah sepenggal lirik lagu dari Ebiet G. Ade. Gue emang suka dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade dan lagu itu membuat gue menerawang jauh.
Gue melihat ke jendela, tampak orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunianya, biarlah. Pengamen itu menghabiskan 3 lagu yaitu lagu “Berita kepada kawan” tadi, lagu dari Opick yang gue lupa judulnya, dan satu lagu yang emang gue gak tau lagu apaan. Gue kasih tuh pengamen gope, cukup.
Belum juga 5 menit, muncul lagi dua orang pengamen, gayanya preman abis ! kaos serba item pake gambar darah dan tengkorak, tato yang tak jelas gambarnya sedikit menyembul keluardi lengan kanan atas tangannya, celana jeans belel bolong-bolong seolah mamerin dengkul mereka yang dekil, pake peniti di alisnya (baca:tindik) yang satu nenteng gitar merangkap vokalis, dan yang satu lagi suatu jenis alat pukul yang gue gak tau namanya apaan (kayaknya sih dibuat sendiri) dia merangkap sebagai backing vocal. “Assalammualaikum wr.wr bapak-bapak-ibu-ibu.. blab bla bla.. proses pembukaan selesai, mereka pun mulai beraksi.
“… bertahan satu cinta.. bertahan satu C.I.N.T.A.. “ gila tong ! gue sebelumnya udah ngebayangin lagu-lagu keras kayak slank, betrayer, rocket rockers, atau apalah itu, taunya D’bagindas ! haha gue ngakak dalem hati. Mereka bawain dua lagu, yang satunya lagu ST12. Oke, gue coba berpikir positif, mungkin jalanan menuntut mereka kreatif, mereka harus mengikuti selera pasar, mereka menerapkan hukum ekonomi praktis ! menarik. Walau kalo boleh jujur suara mereka lebih mirip domba qurban kecekek ! telinga gue sakit.
Gue korek-korek kantong gak ada duit receh, maka gue kasih mereka senyuman aja sambil berucap “maaf” tanda sorry dan apresiasi buat mereka.
Seiring dengan bus yang melaju penumpang pun bergantian, ada yang naik ada yang turun, bangku yang kosong segera terisi, inilah peristiwa rotasi sederhana. Kursi sebelah gue tetep kosong. Dari sini gue belajar bahwa sesuatu akan tetap begitu adanya (misal jabatan) hanya orang-orangnya saja yang berganti seperti kata Peterpan "tak ada yang abadi" yang salah satu liriknya berkata "Jiwa yang lama segera pergi bersiaplah para pengganti".
Jam sudah menunjukan pukul 17.40. Bus hendak memasuki jalan tol, tapi sebelumnya berhenti dulu di sebuah tempat pengecekan penumpang. Bersamaan dengan itu jamuan dari para tukang dagang pun bermunculan, mereka datang bergerombol, ada tukang tahu (paling familiar), nangka, minuman dingin, rokok, kacang, koran, pisang molen, sampe yang paling baru ada tukang moci ! suara mereka yang bersahut-sahutan sungguh bising membuat kepala gue jadi pusing, maka gue pasang headset setel musik-musik slow. Tapi bau mereka yang gak bisa gue hindari, merona sekali! bau keringet yang begitu khas! yah tak apalah, gue coba anggap bahwa itulah bau perjuangan! perjuangan seorang ayah demi menghidupi anak istrinya !
Perjalanan di jalan tol Cipularang memang menyenangkan, begitu tenang dengan suguhan lukisan alam yang mencengangkan ! Aah sadarkah kita begitu kecil di tengah hamparan ayat-Nya ini ? sangat kecil !
biasanya dalam perjalanan yang seperti ini banyak hal yang dapat di rasakan seseorang dalam pikirannya, bisa mencari inspirasi, berkhayal tingkat tinggi, memupuk harapan, mengawang-awang bebas, merindu seseorang, mengorek kenangan, dll. Inilah saat-saat romantis dari perjalanan ini kawan ! Dan gue lebih memilih tidur, hujan mulai reda.
Saat itu pukul 18.15. gue terbangun, Subhanallah! gue tercengang oleh langit senja yang merah ! begitu syahdu dengan sayup suara adzan Magrib yang berkumandang, burung-burung yang hendak pulangpun terlihat seperti siluet sepertinya begitu terburu-buru seolah mereka tak mau ketinggalan menjalankan shalat. Matahari seolah telah bernegosiasi dengan bulan untuk bergantian mendampingi bumi, mereka selalu terjaga ! tetap bersinar di belahan bumi yang lain, frekuensinya selalu tepat, alurnya senantiasa pas, mereka tunduk pada kodrat, inilah bukti bahwa adanya sang Pengatur ! satu lagi pelajaran yang bisa gue petik.
Bumi pun kini dikurung malam, dari kaca jendela bus yang telah mengering gue coba menerawang ke atas langit, ah tak ada bintang, yang ada hanya awan hitam bekas hujan tadi sore. Kini bintang tertutup oleh gemerlap lampu dunia, sulit memang untuk melihat bintang di metropolitan.  Jalan ini terasa panjang, tapi begitu eksotis, dan gue menikmati itu.
Pukul 19.05 bus telah keluar dari gerbang tol cileunyi, rupanya banyak juga yang akan turun disini, mungkin kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, tapi gue gak peduli. “Alhamdulillah” kata itu yang pertama gue ucap dalam hati saat menginjakkan kaki kembali di bumi, bumi Cileunyi. Untuk selanjutnya gue harus naik angkot coklat jurusan Sumedang, angkot itu yang akan membawa gue menuju Jatinagnor, tak ada hal yang spesial selain menunggu angkot ngetem terlebih dahulu yang kadang bikin gue jengkel, apalagi kalo kebelet boker ! haha. Sekian dan terimakasih.

Minggu, 13 Februari 2011

Bocah Ingusan yang Belajar Bercinta

Gue bingung sebenernya apa label yang pas buat cerita gue kali ini. Hmm.. dewasa? ah kagak ada yang vulgar, semua umur? gak asik juga kalo cerita gue di baca engkong-engkong, horor? takut di protes kalangan dedemit..
Maka setelah melakukan konferensi yang cukup alot dengan PKRJ ( Persatuan para Ketua RT Jomblo ) dengan di ilhami wangsit dari mak Erot, maka gue memutuskan bahwa label yang pas untuk cerita ini adalah "bimbingan orang tua". Profesional sekali bukan?
Waktu itu gue masih duduk di kelas 5 SD. Oke sebelumnya gue deskripsikan dulu bagemana penampakan gue waktu itu. Sebagai berikut : 1. Rambut jarang belah pinggir (tempat yang ideal untuk kutu berjemur), wajah babyface alasan yang tepat buat di tabok, kulit putih mulus (pake bedak bayi), kuping lebar hasil kloning anak gajah dengan alien, kuku selalu di potong rapi tak pernah  panjang lebih dari 1 senti (takut di setrap). Jadi dapat disimpulkan penampilan gue waktu itu : klimis najis.
Tapi gue heran juga, banyak cewek naksir gue?? haha (pengertian cewek disini adalah anak-anak ingusan belum cukup umur di bawah 12 tahun). Maka dengan penuh khidmat gue bersabda bahwa : Kalau kau ingin disukai wanita maka belajarlah untuk menyukai dirimu sendiri dulu.
Sebagai anak SD yang polos (Cuiih..) kala itu gue udah terserang penyakit cinta! dilema di antara dua pilihan, brengsek sekali ada di posisi itu bukan ?! Sh*t gue mengalami sindrom cinta monyet, dasar bocah.
Ada dua cewek yang mampu membuat rasa cilok (aci di colok) kesukaan gue jadi terasa hambar !
 Sebut saja namanya Bunga dan Melati (pake nama samaran biar kayak berita kriminal di tipi-tipi). Supaya imajinasi lu jalan, gue gambarkan lagi bagemana perwujudan kedua cewek ini.
Yang pertama, Bunga : body agak kurus, kulit putih bercahaya, lincah kayak bola bekel, manis manja dengan rambut panjang pake pita merah harga 2500an, anak bu guru. lirikannya bikin gue sakaratul. Nilai : 8
Next, Melati : body ideal dikalangan anak SD, kulit putih-merah merona, pake behel, pembawaan kalem-kalem menyesatkan, wajah kayak orang-orang kompeni (baca:bule), senyumnya kayak semangka di bulan puasa, begitu menggoda. Nilai : 8,5
Hari-hari terasa begitu indah di sekolah, setiap kali, gue terus berusaha buat keliatan cool di depan mereka, kayak Rangga AADC ! hehe.. padahal pipis aja masih di anterin. Jujur gue dulu masih cupu soal cinta (mungkin ampe sekarang), gak ngerti apa itu cinta, yang gue tau jantung gue selalu "deg-degan" kalo deket mereka. Gue curhat ke emak gue dia cuma bilang "itu cinta monyet". Aah gue tetep gak ngerti apa itu cinta monyet. Imajinasi gue waktu itu adalah membayangkan bagaimana monyet bercinta. Menarik :)
Keadaan itu bikin gue galau !
"jadi playboy aja lu fal !" saran temen gue yang berhati setan.
"lu harus bisa nentuin di salah satu pilihan" saran temen gue yang berhati malaikat.
 sisanya "golput" gak tau mereka jenis apaan.
Maka setelah gue berdiskusi dengan para pakar, gue memutuskan untuk mengadakan "Operasi Mencari Cinta" haha.. norak sekali namaya, biarlah.
 Jadi operasi ini adalah suatu bentuk kegiatan kongkret dengan cara aktualisasi dan visualisasi langsung untuk mengetahui keadaan empiris di lapangan, simpelnya PeDeKaTe. Ya itulah hasil didikan temen-temen gue yang lebih "senior" soal cinta.
Operasi itu pun di mulai ! ..... ..... ..... ...... ...... 
.... ..... .... .......
..... ..... ..... ..........
Sorry gue gak bisa cerita bagemana jalannya operasi ini, soalnya ini operasi suci banget ! gak boleh sembarangan orang tahu ! di jalankan hanya bagi mereka yang berada "di persimpangan".
Singkat cerita seiring berjalannya waktu, ternyata hati gue lebih kecantol ke Melati, ukurannya adalah : "seberapa nyaman saat kau ada di sampingnya".
yaa... Melati, tampaknya dia cukup merespon. Duniaku menjadi indah :)
Sampai pada suatu sore, kala itu gue sedang nonton pelem drama korea (walaupun gue kagak ngarti ceritanya)
tulilulit... tulilulit... tulilulit.. (suara telepon konvensional). Secepat kilat gua angkat..
"halloohh " suara dari seberang sana ( sok imut baget suaranya )
"iya halo.. siapa ni?" jawab gue
"hehe siapah cobaah ?? masya gak tau cciiyh?"
"emang siapa? kagak tau!"
"ini bungaahh hehe"
" ..... " gue kecekek gagang telepon
"hhaallooh kok diem?"
"he.. eh.. ehm gak apa-apa kok, ada apah niyh?" gue jadi bingung antara sok imut dengan gerogi
"hmm.. akuh mau ngomong sesuatuh, boleh?"
"e ehm.. boleh, mau ngomong apah?" keringet dingin gue bercucuran
 "tapi kamuh jangan marah yah?"
"i i.. iya gak akan marah kok, kenapa?" gue dehidrasi
" hmmm aku suka kamu... "
" .... .... .... deg deg deg" suara jantung gue pecah mendadak
"kok diem lagih? kamu suka akuh enggak?
" eh ehhm hehe.. uhuk uhuk.. gimana ya?" gue berusaha tetep cool padahal gue sambil jedotin kepala ke tembok, seneng tensi tinggi + gerogi akut = ngelakuin hal bego.
" jawab dong, iyah apa enggak?"
".... .... .i..ii.. iyah" gue meleleh.
" tut tut tut" telepon tiba-tiba mati dari seberang sana.
Malemnya gue gak bisa tidur. Itulah kali pertama ada cewek yang nyatain perasaannya ke gue.
Besok paginya rasanya gue mau bolos aja, sumpah gue gak tahu gimana nanti kalo ketemu dia, pengen rasanya gue operasi plastik! ato paling enggak wajah gue di tutup kardus ! jujur waktu itu gue bocah yang pemalu abis ! 
untuk kali pertama gue datang telat ke sekolah. Rencana gue : datang telat langsung duduk dan mengikuti pelajaran dengan baik, 5 menit sebelum bel istirahat pura-pura izin ke toilet, makan dulu terus ngerem di toilet sambil baca komik "conan", masuk ke kelas 5 menit setelah bel masuk, pura-pura sakit perut dan izin pulang duluan! haha dengan begitu gue gak akan ketemu  dia. Licik sekali..
Oke, rencana pertama berhasil, next pura-pura izin ke toilet, gue berhasil keluar langsung cabut ke tukang lengko (kalo lu gak tau apa itu lengko search aje di internet).
tapi tiba-tiba
"mau kemanah?" suara yang sangat gue kenal membuat gue kaget.
gue menoleh.
 Mampus ! si bunga udah berdiri tepat di belakang gue, dia ngintil.
 Penyakit gerogi gue kambuh mendadak!
Sesaat waktu terasa berhenti. Sial jam gue mati !
Gue pura-pura sakit mata, senyum dikit, langsung ngeleos balik ke kelas. gue beku, rencana  gagal total.
Esok harinya..
di saat gue lagi makan cendol bareng temen-temen
"plang lu pacaran ama si bunga? ciee" temen gue nyeletuk (waktu kecil gue suka di panggil "caplang")
Jelegeer !! (back sound : suara petir kayak di pelem-pelem india)
"haah kata siapa lu??" gue pasang muka tablo.
"si bunga sendiri yang bilang"
Oke gue flashback ke pembicaraan via telepon yang lalu. 
Gue cerna setiap katanya, dan tak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa kita jadian ! itu hanya pernyataan ! 
Sh*t.. si bunga nyangka kita jadian ! Padahal sumpah waktu itu di benak gue yang namanya "pacaran" itu adalah hal-hal yang menjijikan ! gue masih bocah, belum ngerti apa-apa ! Oh god.. hidup memang kejam.
Gue bingung harus jawab gimana kalo ada yang nanya begitu lagi, maka dengan niat yang berkobar gue tau apa yang harus gue lakuin.
 Tak lama ada yang bertanya lagi, kali ini temen cewek gue.
"fal bener kamu pacaran ama si bunga?"
gue gak jawab apa-apa, dengan gaya cool gue mengacungkan dua jari gue membentuk huruf "V"  lalu dengan mantap kedua jari tersebut bercumbu, gue mebentuk isyarat gunting ! artinya "putus".. setelah itu gue langsung cabut menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh."dengan kode gitu aja kayaknya cukup, gak perlu ribet dengan penjelasan" pikir gue.
 Beberapa hari gue dan bunga tampak saling menghindar, tak ada kalimat maaf, tak ada penjelasan., acuh tak acuh. Ya mengakhiri sesuatu yang sebenarnya di mulai pun belum.
Ini kesalahpahaman !
 versi gue : dia nyatain perasaan suka ke gue, dan emang gue ada sedikit rasa suka ke dia (di samping kepada melati) dan kita gak pernah nyatain komitmen buat pacaran, artinya kita sama sekali gak pernah jadian.
 versi dia (mungkin) : dia nyatain perasaan suka ke gue dan gue juga suka dia, dengan begitu artinya "pacaran", anggapannya kita jadian selama tiga hari.
Waktu terus belalu
Melati ? ya kemana Melati? sudah satu minggu ini dia tampak ngejauh dari gue, mungkin karena gosip "pacaran" itu penyebabnya. Hubungan gue dengan kedua cewek itu sempet kelu, tak seperti biasanya. 
Ada rasa canggung hasil korban cinta monyet yang ternyata memuakkan. Tapi itu tak berlangsung lama, sebulan kemudian hubungan kita bertiga mulai cair kembali, seolah lupa dengan masa lalu, atau lebih tepatnya pura-pura lupa! dasar cinta monyet..
Perasaan gue ke Bunga berangsur-angsur pudar, berubah menjadi perasaan biasa selayaknya dalam pertemanan. Tapi.. tahukah kau kawan sebenarnya gue masih memendam "perasaan" ini ke Melati sampai 3 tahun berikutnya, gue beranjak dewasa. Masihkah ini di sebut dengan cinta monyet?? Yasudahlah...

Sabtu, 12 Februari 2011

Rhyme in Peace Mom..

Gerimis malam ini begitu lirih, tanpa sadar membawaku pada memory 8 tahun silam.
Ah sh*t ! ini kisah sedih, tapi tak apa aku hanya ingin sekedar mengenang bahwa aku pernah melewati saat - saat paling merubah hidupku !
Saat itu aku baru duduk di kelas 6 SD, sebuah tingkat yang cukup membuatku "sombong" karena dapat menjadi  "senior yang dihormati" di SD kala itu. Bermain, bermain, dan bermain adalah kesibukan rutin ku. Indah sekali bukan? tidak juga. Aku anak yang cukup manja ketika itu, terutama pada ibuku. Ibu sangat menyayangiku, dan aku merasakan itu. Sampai pada suatu siang di saat mimpi tengah aku nikmati. Aku tersentak dengan suara-suara orang yang tampak ramai di rumah ku. "berisik woy!" gumamku. Aku melanjutkan tidur, hiraukan saja.
Aku melihat jam saat itu pukul 16.20, segera aku keluar kamar, heran tak ada siapa-siapa dalam rumah! segera aku dapat kabar bahwa ibu masuk klinik ! astagfirullah.. 
untuk kalian ketahui saat itu ibu tengah mengandung adikku 7 bulan ! "mungkin ini saatnya.." pikirku.
Tapi alangkah terkejutnya ketika aku tahu bahwa ibu sakit dan harus menjalani perawatan, tensi darahnya begitu tinggi juga karena penyakit komplikasi yang bahkan aku sendiri pun lupa namanya! hanya satu hari ibu dirawat di klinik. kondisi ibu semakin lemah, maka keluarga memutuskan membawa ibu ke rumah sakit. Beberapa hari ibu harus dirawat, kondisinya cukup membuat hatiku ngilu, selang infus itu saksi bisu betapa hebat sakit yang ibu derita, mengalirkan cairan yang menerobos masuk lewat jarum yang ditusukkan di lengannya. Ayah senantiasa membisikan ayat-ayat suci Al-Qur'an di telinga ibu, aku dan keluargaku terus berdoa, bahkan ingin sekali aku berdoa begitu keras kepada sang Penghidup ! aku rela lidahku cacat kalau toh dengan begitu doaku akan diijabah, aku rela ! demi ibuku tersayang.
Ibu harus di sesar, ya sesar ! di tengah kondisi ibu yang masih lemah seperti itu ! 
Detik-detik menjelang operasi itu pun datang, aku ikut mengantar ibu yang tengah terbaring ke ruang operasi. "Aa mana?" sayup -sayup suara ibu yang lemah terdengar, begitu kuat bergemuruh dalam dadaku. "Di sini bu" jawabku lirih.
Beberapa jam kemudian suara malaikat kecil itu pun pecah, adik keduaku lahir ! seorang pejantan! lega rasanya. Tapi.. dimana ibu? ternyata kondisi ibu pasca sesar itu semakin lemah.
Berhari-hari ibu masih tetap terbaring, setengah sadar, bahkan setelah melahirkan ibu belum sekalipun menyentuh bayinya yang telah di perjuangkannnya hidup dan mati. keluargaku bergantian menjaga ibu sampai beberapa hari lamanya.
Hingga di suatu pagi aku mendapat telepon dari ayahku, bahwa ibu harus dilarikan ke sebuah rumah sakit yang lebih besar di Bandung, alasannya karena peralatan di sana lebih lengkap! ahh separah itu kah ibuku.. Entah kenapa pagi itu hatiku terasa kelu, tak henti doaku untuk ibu. Pagi itu mendung, syahdu sekali.
 Hanya selang beberapa jam  ayahku menelepon lagi. Bibiku yang mengangkat. " Innalillahi wainnailahi raji'un" samar suara itu terdengar dari mulut bibiku dengan tangan masih menggenggam telepon.
 Ya, inilah saat pertama aku merasa bahwa dunia tak adil, bahwa tuhan begitu angkuh, bahwa hidup hanyalah cerita tentang kepedihan ! takdir telah merebut ibu dari hidupku, ingin sekali rasanya aku membunuh Izrail yang telah merenggut nyawa ibuku! inilah kali pertama aku merasakan pahitnya kehilangan. Hatiku hancur.
Hari kelam itu hari Jum'at, ibuku meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, satu hal yang paling aku sesali adalah disaat terakhir aku tak ada di sampingnya untuk menyentuh tangannya dan membisikkan ayat-ayat suci ditelinga kanannya..
Sore itu juga aku tiba di Garut, ibu akan dimakamkan di sana disandingkan dengan makam kakekku yang telah berpulang satu tahun sebelumnya. seiring dengan langkahku untuk mengantar ibu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, aku mulai sadar bahwa aku harus ikhlas pada keadaan, aku harus bertafakur pada keMAHAan ! inilah fase yang harus aku lalui. Jalan di depan mungkin berliku, tapi ada ibu di hatiku. Aku percaya itu. 
Akan ku buat ibu tersenyum di surga sana, tersenyum bangga melihat putranya, aku berjanji !!
Rhyme in Peace Mom.. :)