Entri Populer

Sabtu, 12 Februari 2011

Rhyme in Peace Mom..

Gerimis malam ini begitu lirih, tanpa sadar membawaku pada memory 8 tahun silam.
Ah sh*t ! ini kisah sedih, tapi tak apa aku hanya ingin sekedar mengenang bahwa aku pernah melewati saat - saat paling merubah hidupku !
Saat itu aku baru duduk di kelas 6 SD, sebuah tingkat yang cukup membuatku "sombong" karena dapat menjadi  "senior yang dihormati" di SD kala itu. Bermain, bermain, dan bermain adalah kesibukan rutin ku. Indah sekali bukan? tidak juga. Aku anak yang cukup manja ketika itu, terutama pada ibuku. Ibu sangat menyayangiku, dan aku merasakan itu. Sampai pada suatu siang di saat mimpi tengah aku nikmati. Aku tersentak dengan suara-suara orang yang tampak ramai di rumah ku. "berisik woy!" gumamku. Aku melanjutkan tidur, hiraukan saja.
Aku melihat jam saat itu pukul 16.20, segera aku keluar kamar, heran tak ada siapa-siapa dalam rumah! segera aku dapat kabar bahwa ibu masuk klinik ! astagfirullah.. 
untuk kalian ketahui saat itu ibu tengah mengandung adikku 7 bulan ! "mungkin ini saatnya.." pikirku.
Tapi alangkah terkejutnya ketika aku tahu bahwa ibu sakit dan harus menjalani perawatan, tensi darahnya begitu tinggi juga karena penyakit komplikasi yang bahkan aku sendiri pun lupa namanya! hanya satu hari ibu dirawat di klinik. kondisi ibu semakin lemah, maka keluarga memutuskan membawa ibu ke rumah sakit. Beberapa hari ibu harus dirawat, kondisinya cukup membuat hatiku ngilu, selang infus itu saksi bisu betapa hebat sakit yang ibu derita, mengalirkan cairan yang menerobos masuk lewat jarum yang ditusukkan di lengannya. Ayah senantiasa membisikan ayat-ayat suci Al-Qur'an di telinga ibu, aku dan keluargaku terus berdoa, bahkan ingin sekali aku berdoa begitu keras kepada sang Penghidup ! aku rela lidahku cacat kalau toh dengan begitu doaku akan diijabah, aku rela ! demi ibuku tersayang.
Ibu harus di sesar, ya sesar ! di tengah kondisi ibu yang masih lemah seperti itu ! 
Detik-detik menjelang operasi itu pun datang, aku ikut mengantar ibu yang tengah terbaring ke ruang operasi. "Aa mana?" sayup -sayup suara ibu yang lemah terdengar, begitu kuat bergemuruh dalam dadaku. "Di sini bu" jawabku lirih.
Beberapa jam kemudian suara malaikat kecil itu pun pecah, adik keduaku lahir ! seorang pejantan! lega rasanya. Tapi.. dimana ibu? ternyata kondisi ibu pasca sesar itu semakin lemah.
Berhari-hari ibu masih tetap terbaring, setengah sadar, bahkan setelah melahirkan ibu belum sekalipun menyentuh bayinya yang telah di perjuangkannnya hidup dan mati. keluargaku bergantian menjaga ibu sampai beberapa hari lamanya.
Hingga di suatu pagi aku mendapat telepon dari ayahku, bahwa ibu harus dilarikan ke sebuah rumah sakit yang lebih besar di Bandung, alasannya karena peralatan di sana lebih lengkap! ahh separah itu kah ibuku.. Entah kenapa pagi itu hatiku terasa kelu, tak henti doaku untuk ibu. Pagi itu mendung, syahdu sekali.
 Hanya selang beberapa jam  ayahku menelepon lagi. Bibiku yang mengangkat. " Innalillahi wainnailahi raji'un" samar suara itu terdengar dari mulut bibiku dengan tangan masih menggenggam telepon.
 Ya, inilah saat pertama aku merasa bahwa dunia tak adil, bahwa tuhan begitu angkuh, bahwa hidup hanyalah cerita tentang kepedihan ! takdir telah merebut ibu dari hidupku, ingin sekali rasanya aku membunuh Izrail yang telah merenggut nyawa ibuku! inilah kali pertama aku merasakan pahitnya kehilangan. Hatiku hancur.
Hari kelam itu hari Jum'at, ibuku meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, satu hal yang paling aku sesali adalah disaat terakhir aku tak ada di sampingnya untuk menyentuh tangannya dan membisikkan ayat-ayat suci ditelinga kanannya..
Sore itu juga aku tiba di Garut, ibu akan dimakamkan di sana disandingkan dengan makam kakekku yang telah berpulang satu tahun sebelumnya. seiring dengan langkahku untuk mengantar ibu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, aku mulai sadar bahwa aku harus ikhlas pada keadaan, aku harus bertafakur pada keMAHAan ! inilah fase yang harus aku lalui. Jalan di depan mungkin berliku, tapi ada ibu di hatiku. Aku percaya itu. 
Akan ku buat ibu tersenyum di surga sana, tersenyum bangga melihat putranya, aku berjanji !!
Rhyme in Peace Mom.. :)

2 komentar:

  1. aku bahkan rela menjadi saksi perjuangan ibu yang melahirkan seorang titipan tuhan yang begitu mulia.setiap tetes peluh yang mengalir saat itu merupakan sebuah doa dari beribu-ribu malaikat Tuhan.yakinlah bunda mu sedang tersenyum melihatmu sekarang.Aku, Kamu dan seluruh anak di alam jagat ini mencintai setiap ibu.
    siapapun anaknya :D



    (yakin con dari lubuk hati yg sangat dalam w ga sanggup bacanya)

    BalasHapus
  2. Amien ! Tak pernah henti doaku untuk wanita yg darahnya mengalir dalam jasadku ini !
    Nuhun nya:)

    BalasHapus