Hey pernah gak sih lu memandang hidup dari sisi yang lain? Melihat dan menikmati pelajaran dari sebuah kehidupan yang nyata, bukan dari novel fiksi, pentas drama apalagi sinetron cinta ! Sederhananya ibarat melihat sisi durian yang terbelah, tajam berduri di satu sisi tapi kuning menyala lembut di sisi yang lainnya. Kontras bukan?
Ya, itulah yang coba gue tuangkan di cerita gue kali ini.
Sepakat kalo gue bilang rutinitas adalah hal yang membosankan? Kalo lu bilang “ah gak juga” itu urusan lu. Tapi gue yakin lu bakal sampai di satu titik dimana lu ngerasa penat banget dengan rutinitas yang lu jalankan. Kalo ya, maka gue coba mengajak lu berfantasi terhadap eksotisme dunia yang sebenernya ada di sekeliling lu ! Seperti perjalanan gue kali ini antara Karawang-Jatinangor.
Bukan hal yang istimewa sebenernya perjalanan ini, hanya rutinitas biasa “pulang-pergi menuju tempat mencari ilmu yang idealnya manfaat namun bisa saja sesat”.
Sore itu hari Sabtu pukul 16.45
Sudah 10 menit gue menuggu bus jurusan Tasik calon tunggangan gue menuju Cileunyi, seperti sebuah penantian menunggu seseorang yang akan meminjamkan pundaknya dan memapah kita yang tak kuasa berjalan menuju tempat berlabuh, tapi sayang dia tak setia, gue mungkin orang kesekian yang dibawanya, dan parahnya dia berselingkuh disaat yang bersamaan ! dia cuek saja, kurang ajar.
Sore itu mendung, ah angin sore yang mendung memang sepoi amboi, ritmenya tak beraturan namun indah. Seperti musik jazz, dimainkan hanya dengan menggunakan naluri, permainan improvisasi para maestro ! begitu bersahaja.
Akhirnya, rombongan itu pun datang, gerimis yang sesegera mungkin memeluk tanah seolah melepas rindu yang begitu sangat, mula-mula pelan tapi kemudian kian cepat seperti tak sabarnya para serdadu yang bertemu istrinya setelah berpeluh-peluh di medan perang, mereka bercumbu. Ahh sebagian tampaknya nasibnya kurang beruntung, ada yang malah kecantol di baju, celana dan rambut gue, entah gue atau mereka yang sial.
Gue berteduh di warung. Ada dua pisang goreng terbaring pasrah, gue embat sebagai pelengkap menikmati hujan di keterasingan. Sial gue kebelet pipis, gue pun pipis (walau gak penting juga ague certain).
Bau tanah yang di cumbu hujan emang selalu gue rindukan, baunya khas, menggoda dan kadang getir! Seolah menyihir gue untuk menerawang jauh tentang segala hal yang udah gue lewatin, cukup mistik bukan? Entahlah.
Gue mengamati sekitar, ada yang berteduh, pacaran, ibu yang menyusui anaknya, anak-anak yang berlari-lari kecil menghindari hujan, melamun, maen gaple, dll. Gue gak kenal mereka dan mereka pun gak kenal gue, tapi mereka ibarat sketsa yang tergambar absurd di mata gue, inilah karya ilmiah kehidupan !
Akhirnya, bus yang di tunggu itu pun datang. Segera gue masuk menjelajah dimana saja kursi yang dapat gue singgahi, ya sebelah kiri jok dua kursi jajaran tengah, gue memilih duduk di situ. Tahukah kau kawan mengamati orang-orang yang berjejer duduk terorganisir di bus adalah hal yang monoton! Kebanyakan dari mereka cuek, acuh tak acuh, sibuk dengan imajinasinya masing-masing. Sangat komunal! Tapi, di balik itu sebenarnya mereka adalah orang-orang yang senang di ajak bicara, ya seperti orang Indonesia kebanyakan, senang berbicara. Gue duduk sendiri.
Gue melihat jam, saat itu pukul 17.05. Saat itu pula gue pastikan bahwa 5 menit kedepan gue sebagai penumpang akan di suguhi pertunjukan musik jalanan, dan koridor bus itulah panggung mereka. Benar saja, seorang pria setengah baya masuk, sambil menenteng gitar tua yang di tempeli microphone kecil, penampilannya sederhana saja, kaos oblong berwarna abu-abu, celana pendek belel, dan sandal jepit murahan. “selamat sore bapak sopir, bapak kondektur dan penumpang sekalian. Berjumpa kembali dengan kami para musisi jalanan.. dan bla bla bla.. baiklah berikut sebuah lagu miliknya Ebiet G. Ade..
Sayup suara pengamen yang cukup merdu itu mengantar kami dalam perjalanan..
“… munkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.. “ begitulah sepenggal lirik lagu dari Ebiet G. Ade. Gue emang suka dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade dan lagu itu membuat gue menerawang jauh.
Gue melihat ke jendela, tampak orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunianya, biarlah. Pengamen itu menghabiskan 3 lagu yaitu lagu “Berita kepada kawan” tadi, lagu dari Opick yang gue lupa judulnya, dan satu lagu yang emang gue gak tau lagu apaan. Gue kasih tuh pengamen gope, cukup.
Belum juga 5 menit, muncul lagi dua orang pengamen, gayanya preman abis ! kaos serba item pake gambar darah dan tengkorak, tato yang tak jelas gambarnya sedikit menyembul keluardi lengan kanan atas tangannya, celana jeans belel bolong-bolong seolah mamerin dengkul mereka yang dekil, pake peniti di alisnya (baca:tindik) yang satu nenteng gitar merangkap vokalis, dan yang satu lagi suatu jenis alat pukul yang gue gak tau namanya apaan (kayaknya sih dibuat sendiri) dia merangkap sebagai backing vocal. “Assalammualaikum wr.wr bapak-bapak-ibu-ibu.. blab bla bla.. proses pembukaan selesai, mereka pun mulai beraksi.
“… bertahan satu cinta.. bertahan satu C.I.N.T.A.. “ gila tong ! gue sebelumnya udah ngebayangin lagu-lagu keras kayak slank, betrayer, rocket rockers, atau apalah itu, taunya D’bagindas ! haha gue ngakak dalem hati. Mereka bawain dua lagu, yang satunya lagu ST12. Oke, gue coba berpikir positif, mungkin jalanan menuntut mereka kreatif, mereka harus mengikuti selera pasar, mereka menerapkan hukum ekonomi praktis ! menarik. Walau kalo boleh jujur suara mereka lebih mirip domba qurban kecekek ! telinga gue sakit.
Gue korek-korek kantong gak ada duit receh, maka gue kasih mereka senyuman aja sambil berucap “maaf” tanda sorry dan apresiasi buat mereka.
Seiring dengan bus yang melaju penumpang pun bergantian, ada yang naik ada yang turun, bangku yang kosong segera terisi, inilah peristiwa rotasi sederhana. Kursi sebelah gue tetep kosong. Dari sini gue belajar bahwa sesuatu akan tetap begitu adanya (misal jabatan) hanya orang-orangnya saja yang berganti seperti kata Peterpan "tak ada yang abadi" yang salah satu liriknya berkata "Jiwa yang lama segera pergi bersiaplah para pengganti".
Jam sudah menunjukan pukul 17.40. Bus hendak memasuki jalan tol, tapi sebelumnya berhenti dulu di sebuah tempat pengecekan penumpang. Bersamaan dengan itu jamuan dari para tukang dagang pun bermunculan, mereka datang bergerombol, ada tukang tahu (paling familiar), nangka, minuman dingin, rokok, kacang, koran, pisang molen, sampe yang paling baru ada tukang moci ! suara mereka yang bersahut-sahutan sungguh bising membuat kepala gue jadi pusing, maka gue pasang headset setel musik-musik slow. Tapi bau mereka yang gak bisa gue hindari, merona sekali! bau keringet yang begitu khas! yah tak apalah, gue coba anggap bahwa itulah bau perjuangan! perjuangan seorang ayah demi menghidupi anak istrinya !
Perjalanan di jalan tol Cipularang memang menyenangkan, begitu tenang dengan suguhan lukisan alam yang mencengangkan ! Aah sadarkah kita begitu kecil di tengah hamparan ayat-Nya ini ? sangat kecil !
biasanya dalam perjalanan yang seperti ini banyak hal yang dapat di rasakan seseorang dalam pikirannya, bisa mencari inspirasi, berkhayal tingkat tinggi, memupuk harapan, mengawang-awang bebas, merindu seseorang, mengorek kenangan, dll. Inilah saat-saat romantis dari perjalanan ini kawan ! Dan gue lebih memilih tidur, hujan mulai reda.
Saat itu pukul 18.15. gue terbangun, Subhanallah! gue tercengang oleh langit senja yang merah ! begitu syahdu dengan sayup suara adzan Magrib yang berkumandang, burung-burung yang hendak pulangpun terlihat seperti siluet sepertinya begitu terburu-buru seolah mereka tak mau ketinggalan menjalankan shalat. Matahari seolah telah bernegosiasi dengan bulan untuk bergantian mendampingi bumi, mereka selalu terjaga ! tetap bersinar di belahan bumi yang lain, frekuensinya selalu tepat, alurnya senantiasa pas, mereka tunduk pada kodrat, inilah bukti bahwa adanya sang Pengatur ! satu lagi pelajaran yang bisa gue petik.
Bumi pun kini dikurung malam, dari kaca jendela bus yang telah mengering gue coba menerawang ke atas langit, ah tak ada bintang, yang ada hanya awan hitam bekas hujan tadi sore. Kini bintang tertutup oleh gemerlap lampu dunia, sulit memang untuk melihat bintang di metropolitan. Jalan ini terasa panjang, tapi begitu eksotis, dan gue menikmati itu.
Pukul 19.05 bus telah keluar dari gerbang tol cileunyi, rupanya banyak juga yang akan turun disini, mungkin kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, tapi gue gak peduli. “Alhamdulillah” kata itu yang pertama gue ucap dalam hati saat menginjakkan kaki kembali di bumi, bumi Cileunyi. Untuk selanjutnya gue harus naik angkot coklat jurusan Sumedang, angkot itu yang akan membawa gue menuju Jatinagnor, tak ada hal yang spesial selain menunggu angkot ngetem terlebih dahulu yang kadang bikin gue jengkel, apalagi kalo kebelet boker ! haha. Sekian dan terimakasih.