Entri Populer

Minggu, 20 Februari 2011

Eksotisme perjalanan Karawang-Jatinangor

Hey pernah gak sih lu memandang hidup dari sisi yang lain? Melihat dan menikmati pelajaran dari sebuah kehidupan yang nyata, bukan dari novel fiksi, pentas drama apalagi sinetron cinta ! Sederhananya ibarat melihat sisi durian yang terbelah, tajam berduri di satu sisi tapi kuning menyala lembut di sisi yang lainnya. Kontras bukan?
Ya, itulah yang coba gue tuangkan di cerita gue kali ini.
Sepakat kalo gue bilang rutinitas adalah hal yang membosankan? Kalo lu bilang “ah gak juga” itu urusan lu. Tapi gue yakin lu bakal sampai di satu titik dimana lu ngerasa penat banget dengan rutinitas yang lu jalankan. Kalo ya, maka gue coba mengajak lu berfantasi terhadap eksotisme dunia yang sebenernya ada di sekeliling lu ! Seperti perjalanan gue kali ini antara Karawang-Jatinangor.
Bukan hal yang istimewa sebenernya perjalanan ini, hanya rutinitas biasa “pulang-pergi menuju tempat mencari ilmu yang idealnya manfaat namun bisa saja sesat”.
Sore itu hari Sabtu pukul 16.45
Sudah 10 menit gue menuggu bus jurusan Tasik calon tunggangan gue menuju Cileunyi, seperti sebuah penantian menunggu seseorang yang akan meminjamkan pundaknya dan memapah kita yang tak kuasa berjalan menuju tempat berlabuh, tapi sayang dia tak setia, gue mungkin orang kesekian yang dibawanya, dan parahnya dia berselingkuh disaat yang bersamaan ! dia cuek saja, kurang ajar.
Sore itu mendung, ah angin sore yang mendung memang sepoi amboi, ritmenya tak beraturan namun indah. Seperti musik jazz, dimainkan hanya dengan menggunakan naluri, permainan improvisasi para maestro ! begitu bersahaja.
Akhirnya, rombongan itu pun datang, gerimis yang sesegera mungkin memeluk tanah seolah melepas rindu yang begitu sangat, mula-mula pelan tapi kemudian kian cepat seperti tak sabarnya para serdadu yang bertemu istrinya setelah berpeluh-peluh di medan perang, mereka bercumbu. Ahh sebagian tampaknya nasibnya kurang beruntung, ada yang malah kecantol di baju, celana dan rambut gue, entah gue atau mereka yang sial.
 Gue berteduh di warung. Ada dua pisang goreng terbaring pasrah, gue embat sebagai pelengkap menikmati hujan di keterasingan. Sial gue kebelet pipis, gue pun pipis (walau gak penting juga ague certain).
Bau tanah yang di cumbu hujan emang selalu gue rindukan, baunya khas, menggoda dan kadang getir! Seolah menyihir gue untuk menerawang jauh tentang segala hal yang udah gue lewatin, cukup mistik bukan? Entahlah.
 Gue mengamati sekitar, ada yang berteduh, pacaran, ibu yang menyusui anaknya, anak-anak yang berlari-lari kecil menghindari hujan, melamun, maen gaple, dll. Gue gak kenal mereka dan mereka pun gak kenal gue, tapi mereka ibarat sketsa yang tergambar absurd di mata gue, inilah karya ilmiah kehidupan !
Akhirnya, bus yang di tunggu itu pun datang. Segera gue masuk menjelajah dimana saja kursi yang dapat gue singgahi, ya sebelah kiri jok dua kursi jajaran tengah, gue memilih duduk di situ. Tahukah kau kawan mengamati orang-orang yang berjejer duduk terorganisir di bus adalah hal yang monoton! Kebanyakan dari mereka cuek, acuh tak acuh, sibuk dengan imajinasinya masing-masing. Sangat komunal! Tapi, di balik itu sebenarnya mereka adalah orang-orang yang senang di ajak bicara, ya seperti orang Indonesia kebanyakan, senang berbicara. Gue duduk sendiri.
Gue melihat jam, saat itu pukul 17.05. Saat itu pula gue pastikan bahwa 5 menit kedepan gue sebagai penumpang akan di suguhi pertunjukan musik jalanan, dan koridor bus itulah panggung mereka. Benar saja, seorang pria setengah baya masuk, sambil menenteng gitar tua yang di tempeli microphone kecil, penampilannya sederhana saja, kaos oblong berwarna abu-abu, celana pendek belel, dan sandal jepit murahan. “selamat sore bapak sopir, bapak kondektur dan penumpang sekalian. Berjumpa kembali dengan kami para musisi jalanan.. dan bla bla bla.. baiklah berikut sebuah lagu miliknya Ebiet G. Ade..
Sayup suara pengamen yang cukup merdu itu mengantar kami dalam perjalanan..
“… munkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.. “ begitulah sepenggal lirik lagu dari Ebiet G. Ade. Gue emang suka dengan lagu-lagu dari Ebiet G. Ade dan lagu itu membuat gue menerawang jauh.
Gue melihat ke jendela, tampak orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunianya, biarlah. Pengamen itu menghabiskan 3 lagu yaitu lagu “Berita kepada kawan” tadi, lagu dari Opick yang gue lupa judulnya, dan satu lagu yang emang gue gak tau lagu apaan. Gue kasih tuh pengamen gope, cukup.
Belum juga 5 menit, muncul lagi dua orang pengamen, gayanya preman abis ! kaos serba item pake gambar darah dan tengkorak, tato yang tak jelas gambarnya sedikit menyembul keluardi lengan kanan atas tangannya, celana jeans belel bolong-bolong seolah mamerin dengkul mereka yang dekil, pake peniti di alisnya (baca:tindik) yang satu nenteng gitar merangkap vokalis, dan yang satu lagi suatu jenis alat pukul yang gue gak tau namanya apaan (kayaknya sih dibuat sendiri) dia merangkap sebagai backing vocal. “Assalammualaikum wr.wr bapak-bapak-ibu-ibu.. blab bla bla.. proses pembukaan selesai, mereka pun mulai beraksi.
“… bertahan satu cinta.. bertahan satu C.I.N.T.A.. “ gila tong ! gue sebelumnya udah ngebayangin lagu-lagu keras kayak slank, betrayer, rocket rockers, atau apalah itu, taunya D’bagindas ! haha gue ngakak dalem hati. Mereka bawain dua lagu, yang satunya lagu ST12. Oke, gue coba berpikir positif, mungkin jalanan menuntut mereka kreatif, mereka harus mengikuti selera pasar, mereka menerapkan hukum ekonomi praktis ! menarik. Walau kalo boleh jujur suara mereka lebih mirip domba qurban kecekek ! telinga gue sakit.
Gue korek-korek kantong gak ada duit receh, maka gue kasih mereka senyuman aja sambil berucap “maaf” tanda sorry dan apresiasi buat mereka.
Seiring dengan bus yang melaju penumpang pun bergantian, ada yang naik ada yang turun, bangku yang kosong segera terisi, inilah peristiwa rotasi sederhana. Kursi sebelah gue tetep kosong. Dari sini gue belajar bahwa sesuatu akan tetap begitu adanya (misal jabatan) hanya orang-orangnya saja yang berganti seperti kata Peterpan "tak ada yang abadi" yang salah satu liriknya berkata "Jiwa yang lama segera pergi bersiaplah para pengganti".
Jam sudah menunjukan pukul 17.40. Bus hendak memasuki jalan tol, tapi sebelumnya berhenti dulu di sebuah tempat pengecekan penumpang. Bersamaan dengan itu jamuan dari para tukang dagang pun bermunculan, mereka datang bergerombol, ada tukang tahu (paling familiar), nangka, minuman dingin, rokok, kacang, koran, pisang molen, sampe yang paling baru ada tukang moci ! suara mereka yang bersahut-sahutan sungguh bising membuat kepala gue jadi pusing, maka gue pasang headset setel musik-musik slow. Tapi bau mereka yang gak bisa gue hindari, merona sekali! bau keringet yang begitu khas! yah tak apalah, gue coba anggap bahwa itulah bau perjuangan! perjuangan seorang ayah demi menghidupi anak istrinya !
Perjalanan di jalan tol Cipularang memang menyenangkan, begitu tenang dengan suguhan lukisan alam yang mencengangkan ! Aah sadarkah kita begitu kecil di tengah hamparan ayat-Nya ini ? sangat kecil !
biasanya dalam perjalanan yang seperti ini banyak hal yang dapat di rasakan seseorang dalam pikirannya, bisa mencari inspirasi, berkhayal tingkat tinggi, memupuk harapan, mengawang-awang bebas, merindu seseorang, mengorek kenangan, dll. Inilah saat-saat romantis dari perjalanan ini kawan ! Dan gue lebih memilih tidur, hujan mulai reda.
Saat itu pukul 18.15. gue terbangun, Subhanallah! gue tercengang oleh langit senja yang merah ! begitu syahdu dengan sayup suara adzan Magrib yang berkumandang, burung-burung yang hendak pulangpun terlihat seperti siluet sepertinya begitu terburu-buru seolah mereka tak mau ketinggalan menjalankan shalat. Matahari seolah telah bernegosiasi dengan bulan untuk bergantian mendampingi bumi, mereka selalu terjaga ! tetap bersinar di belahan bumi yang lain, frekuensinya selalu tepat, alurnya senantiasa pas, mereka tunduk pada kodrat, inilah bukti bahwa adanya sang Pengatur ! satu lagi pelajaran yang bisa gue petik.
Bumi pun kini dikurung malam, dari kaca jendela bus yang telah mengering gue coba menerawang ke atas langit, ah tak ada bintang, yang ada hanya awan hitam bekas hujan tadi sore. Kini bintang tertutup oleh gemerlap lampu dunia, sulit memang untuk melihat bintang di metropolitan.  Jalan ini terasa panjang, tapi begitu eksotis, dan gue menikmati itu.
Pukul 19.05 bus telah keluar dari gerbang tol cileunyi, rupanya banyak juga yang akan turun disini, mungkin kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, tapi gue gak peduli. “Alhamdulillah” kata itu yang pertama gue ucap dalam hati saat menginjakkan kaki kembali di bumi, bumi Cileunyi. Untuk selanjutnya gue harus naik angkot coklat jurusan Sumedang, angkot itu yang akan membawa gue menuju Jatinagnor, tak ada hal yang spesial selain menunggu angkot ngetem terlebih dahulu yang kadang bikin gue jengkel, apalagi kalo kebelet boker ! haha. Sekian dan terimakasih.

Minggu, 13 Februari 2011

Bocah Ingusan yang Belajar Bercinta

Gue bingung sebenernya apa label yang pas buat cerita gue kali ini. Hmm.. dewasa? ah kagak ada yang vulgar, semua umur? gak asik juga kalo cerita gue di baca engkong-engkong, horor? takut di protes kalangan dedemit..
Maka setelah melakukan konferensi yang cukup alot dengan PKRJ ( Persatuan para Ketua RT Jomblo ) dengan di ilhami wangsit dari mak Erot, maka gue memutuskan bahwa label yang pas untuk cerita ini adalah "bimbingan orang tua". Profesional sekali bukan?
Waktu itu gue masih duduk di kelas 5 SD. Oke sebelumnya gue deskripsikan dulu bagemana penampakan gue waktu itu. Sebagai berikut : 1. Rambut jarang belah pinggir (tempat yang ideal untuk kutu berjemur), wajah babyface alasan yang tepat buat di tabok, kulit putih mulus (pake bedak bayi), kuping lebar hasil kloning anak gajah dengan alien, kuku selalu di potong rapi tak pernah  panjang lebih dari 1 senti (takut di setrap). Jadi dapat disimpulkan penampilan gue waktu itu : klimis najis.
Tapi gue heran juga, banyak cewek naksir gue?? haha (pengertian cewek disini adalah anak-anak ingusan belum cukup umur di bawah 12 tahun). Maka dengan penuh khidmat gue bersabda bahwa : Kalau kau ingin disukai wanita maka belajarlah untuk menyukai dirimu sendiri dulu.
Sebagai anak SD yang polos (Cuiih..) kala itu gue udah terserang penyakit cinta! dilema di antara dua pilihan, brengsek sekali ada di posisi itu bukan ?! Sh*t gue mengalami sindrom cinta monyet, dasar bocah.
Ada dua cewek yang mampu membuat rasa cilok (aci di colok) kesukaan gue jadi terasa hambar !
 Sebut saja namanya Bunga dan Melati (pake nama samaran biar kayak berita kriminal di tipi-tipi). Supaya imajinasi lu jalan, gue gambarkan lagi bagemana perwujudan kedua cewek ini.
Yang pertama, Bunga : body agak kurus, kulit putih bercahaya, lincah kayak bola bekel, manis manja dengan rambut panjang pake pita merah harga 2500an, anak bu guru. lirikannya bikin gue sakaratul. Nilai : 8
Next, Melati : body ideal dikalangan anak SD, kulit putih-merah merona, pake behel, pembawaan kalem-kalem menyesatkan, wajah kayak orang-orang kompeni (baca:bule), senyumnya kayak semangka di bulan puasa, begitu menggoda. Nilai : 8,5
Hari-hari terasa begitu indah di sekolah, setiap kali, gue terus berusaha buat keliatan cool di depan mereka, kayak Rangga AADC ! hehe.. padahal pipis aja masih di anterin. Jujur gue dulu masih cupu soal cinta (mungkin ampe sekarang), gak ngerti apa itu cinta, yang gue tau jantung gue selalu "deg-degan" kalo deket mereka. Gue curhat ke emak gue dia cuma bilang "itu cinta monyet". Aah gue tetep gak ngerti apa itu cinta monyet. Imajinasi gue waktu itu adalah membayangkan bagaimana monyet bercinta. Menarik :)
Keadaan itu bikin gue galau !
"jadi playboy aja lu fal !" saran temen gue yang berhati setan.
"lu harus bisa nentuin di salah satu pilihan" saran temen gue yang berhati malaikat.
 sisanya "golput" gak tau mereka jenis apaan.
Maka setelah gue berdiskusi dengan para pakar, gue memutuskan untuk mengadakan "Operasi Mencari Cinta" haha.. norak sekali namaya, biarlah.
 Jadi operasi ini adalah suatu bentuk kegiatan kongkret dengan cara aktualisasi dan visualisasi langsung untuk mengetahui keadaan empiris di lapangan, simpelnya PeDeKaTe. Ya itulah hasil didikan temen-temen gue yang lebih "senior" soal cinta.
Operasi itu pun di mulai ! ..... ..... ..... ...... ...... 
.... ..... .... .......
..... ..... ..... ..........
Sorry gue gak bisa cerita bagemana jalannya operasi ini, soalnya ini operasi suci banget ! gak boleh sembarangan orang tahu ! di jalankan hanya bagi mereka yang berada "di persimpangan".
Singkat cerita seiring berjalannya waktu, ternyata hati gue lebih kecantol ke Melati, ukurannya adalah : "seberapa nyaman saat kau ada di sampingnya".
yaa... Melati, tampaknya dia cukup merespon. Duniaku menjadi indah :)
Sampai pada suatu sore, kala itu gue sedang nonton pelem drama korea (walaupun gue kagak ngarti ceritanya)
tulilulit... tulilulit... tulilulit.. (suara telepon konvensional). Secepat kilat gua angkat..
"halloohh " suara dari seberang sana ( sok imut baget suaranya )
"iya halo.. siapa ni?" jawab gue
"hehe siapah cobaah ?? masya gak tau cciiyh?"
"emang siapa? kagak tau!"
"ini bungaahh hehe"
" ..... " gue kecekek gagang telepon
"hhaallooh kok diem?"
"he.. eh.. ehm gak apa-apa kok, ada apah niyh?" gue jadi bingung antara sok imut dengan gerogi
"hmm.. akuh mau ngomong sesuatuh, boleh?"
"e ehm.. boleh, mau ngomong apah?" keringet dingin gue bercucuran
 "tapi kamuh jangan marah yah?"
"i i.. iya gak akan marah kok, kenapa?" gue dehidrasi
" hmmm aku suka kamu... "
" .... .... .... deg deg deg" suara jantung gue pecah mendadak
"kok diem lagih? kamu suka akuh enggak?
" eh ehhm hehe.. uhuk uhuk.. gimana ya?" gue berusaha tetep cool padahal gue sambil jedotin kepala ke tembok, seneng tensi tinggi + gerogi akut = ngelakuin hal bego.
" jawab dong, iyah apa enggak?"
".... .... .i..ii.. iyah" gue meleleh.
" tut tut tut" telepon tiba-tiba mati dari seberang sana.
Malemnya gue gak bisa tidur. Itulah kali pertama ada cewek yang nyatain perasaannya ke gue.
Besok paginya rasanya gue mau bolos aja, sumpah gue gak tahu gimana nanti kalo ketemu dia, pengen rasanya gue operasi plastik! ato paling enggak wajah gue di tutup kardus ! jujur waktu itu gue bocah yang pemalu abis ! 
untuk kali pertama gue datang telat ke sekolah. Rencana gue : datang telat langsung duduk dan mengikuti pelajaran dengan baik, 5 menit sebelum bel istirahat pura-pura izin ke toilet, makan dulu terus ngerem di toilet sambil baca komik "conan", masuk ke kelas 5 menit setelah bel masuk, pura-pura sakit perut dan izin pulang duluan! haha dengan begitu gue gak akan ketemu  dia. Licik sekali..
Oke, rencana pertama berhasil, next pura-pura izin ke toilet, gue berhasil keluar langsung cabut ke tukang lengko (kalo lu gak tau apa itu lengko search aje di internet).
tapi tiba-tiba
"mau kemanah?" suara yang sangat gue kenal membuat gue kaget.
gue menoleh.
 Mampus ! si bunga udah berdiri tepat di belakang gue, dia ngintil.
 Penyakit gerogi gue kambuh mendadak!
Sesaat waktu terasa berhenti. Sial jam gue mati !
Gue pura-pura sakit mata, senyum dikit, langsung ngeleos balik ke kelas. gue beku, rencana  gagal total.
Esok harinya..
di saat gue lagi makan cendol bareng temen-temen
"plang lu pacaran ama si bunga? ciee" temen gue nyeletuk (waktu kecil gue suka di panggil "caplang")
Jelegeer !! (back sound : suara petir kayak di pelem-pelem india)
"haah kata siapa lu??" gue pasang muka tablo.
"si bunga sendiri yang bilang"
Oke gue flashback ke pembicaraan via telepon yang lalu. 
Gue cerna setiap katanya, dan tak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa kita jadian ! itu hanya pernyataan ! 
Sh*t.. si bunga nyangka kita jadian ! Padahal sumpah waktu itu di benak gue yang namanya "pacaran" itu adalah hal-hal yang menjijikan ! gue masih bocah, belum ngerti apa-apa ! Oh god.. hidup memang kejam.
Gue bingung harus jawab gimana kalo ada yang nanya begitu lagi, maka dengan niat yang berkobar gue tau apa yang harus gue lakuin.
 Tak lama ada yang bertanya lagi, kali ini temen cewek gue.
"fal bener kamu pacaran ama si bunga?"
gue gak jawab apa-apa, dengan gaya cool gue mengacungkan dua jari gue membentuk huruf "V"  lalu dengan mantap kedua jari tersebut bercumbu, gue mebentuk isyarat gunting ! artinya "putus".. setelah itu gue langsung cabut menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh."dengan kode gitu aja kayaknya cukup, gak perlu ribet dengan penjelasan" pikir gue.
 Beberapa hari gue dan bunga tampak saling menghindar, tak ada kalimat maaf, tak ada penjelasan., acuh tak acuh. Ya mengakhiri sesuatu yang sebenarnya di mulai pun belum.
Ini kesalahpahaman !
 versi gue : dia nyatain perasaan suka ke gue, dan emang gue ada sedikit rasa suka ke dia (di samping kepada melati) dan kita gak pernah nyatain komitmen buat pacaran, artinya kita sama sekali gak pernah jadian.
 versi dia (mungkin) : dia nyatain perasaan suka ke gue dan gue juga suka dia, dengan begitu artinya "pacaran", anggapannya kita jadian selama tiga hari.
Waktu terus belalu
Melati ? ya kemana Melati? sudah satu minggu ini dia tampak ngejauh dari gue, mungkin karena gosip "pacaran" itu penyebabnya. Hubungan gue dengan kedua cewek itu sempet kelu, tak seperti biasanya. 
Ada rasa canggung hasil korban cinta monyet yang ternyata memuakkan. Tapi itu tak berlangsung lama, sebulan kemudian hubungan kita bertiga mulai cair kembali, seolah lupa dengan masa lalu, atau lebih tepatnya pura-pura lupa! dasar cinta monyet..
Perasaan gue ke Bunga berangsur-angsur pudar, berubah menjadi perasaan biasa selayaknya dalam pertemanan. Tapi.. tahukah kau kawan sebenarnya gue masih memendam "perasaan" ini ke Melati sampai 3 tahun berikutnya, gue beranjak dewasa. Masihkah ini di sebut dengan cinta monyet?? Yasudahlah...

Sabtu, 12 Februari 2011

Rhyme in Peace Mom..

Gerimis malam ini begitu lirih, tanpa sadar membawaku pada memory 8 tahun silam.
Ah sh*t ! ini kisah sedih, tapi tak apa aku hanya ingin sekedar mengenang bahwa aku pernah melewati saat - saat paling merubah hidupku !
Saat itu aku baru duduk di kelas 6 SD, sebuah tingkat yang cukup membuatku "sombong" karena dapat menjadi  "senior yang dihormati" di SD kala itu. Bermain, bermain, dan bermain adalah kesibukan rutin ku. Indah sekali bukan? tidak juga. Aku anak yang cukup manja ketika itu, terutama pada ibuku. Ibu sangat menyayangiku, dan aku merasakan itu. Sampai pada suatu siang di saat mimpi tengah aku nikmati. Aku tersentak dengan suara-suara orang yang tampak ramai di rumah ku. "berisik woy!" gumamku. Aku melanjutkan tidur, hiraukan saja.
Aku melihat jam saat itu pukul 16.20, segera aku keluar kamar, heran tak ada siapa-siapa dalam rumah! segera aku dapat kabar bahwa ibu masuk klinik ! astagfirullah.. 
untuk kalian ketahui saat itu ibu tengah mengandung adikku 7 bulan ! "mungkin ini saatnya.." pikirku.
Tapi alangkah terkejutnya ketika aku tahu bahwa ibu sakit dan harus menjalani perawatan, tensi darahnya begitu tinggi juga karena penyakit komplikasi yang bahkan aku sendiri pun lupa namanya! hanya satu hari ibu dirawat di klinik. kondisi ibu semakin lemah, maka keluarga memutuskan membawa ibu ke rumah sakit. Beberapa hari ibu harus dirawat, kondisinya cukup membuat hatiku ngilu, selang infus itu saksi bisu betapa hebat sakit yang ibu derita, mengalirkan cairan yang menerobos masuk lewat jarum yang ditusukkan di lengannya. Ayah senantiasa membisikan ayat-ayat suci Al-Qur'an di telinga ibu, aku dan keluargaku terus berdoa, bahkan ingin sekali aku berdoa begitu keras kepada sang Penghidup ! aku rela lidahku cacat kalau toh dengan begitu doaku akan diijabah, aku rela ! demi ibuku tersayang.
Ibu harus di sesar, ya sesar ! di tengah kondisi ibu yang masih lemah seperti itu ! 
Detik-detik menjelang operasi itu pun datang, aku ikut mengantar ibu yang tengah terbaring ke ruang operasi. "Aa mana?" sayup -sayup suara ibu yang lemah terdengar, begitu kuat bergemuruh dalam dadaku. "Di sini bu" jawabku lirih.
Beberapa jam kemudian suara malaikat kecil itu pun pecah, adik keduaku lahir ! seorang pejantan! lega rasanya. Tapi.. dimana ibu? ternyata kondisi ibu pasca sesar itu semakin lemah.
Berhari-hari ibu masih tetap terbaring, setengah sadar, bahkan setelah melahirkan ibu belum sekalipun menyentuh bayinya yang telah di perjuangkannnya hidup dan mati. keluargaku bergantian menjaga ibu sampai beberapa hari lamanya.
Hingga di suatu pagi aku mendapat telepon dari ayahku, bahwa ibu harus dilarikan ke sebuah rumah sakit yang lebih besar di Bandung, alasannya karena peralatan di sana lebih lengkap! ahh separah itu kah ibuku.. Entah kenapa pagi itu hatiku terasa kelu, tak henti doaku untuk ibu. Pagi itu mendung, syahdu sekali.
 Hanya selang beberapa jam  ayahku menelepon lagi. Bibiku yang mengangkat. " Innalillahi wainnailahi raji'un" samar suara itu terdengar dari mulut bibiku dengan tangan masih menggenggam telepon.
 Ya, inilah saat pertama aku merasa bahwa dunia tak adil, bahwa tuhan begitu angkuh, bahwa hidup hanyalah cerita tentang kepedihan ! takdir telah merebut ibu dari hidupku, ingin sekali rasanya aku membunuh Izrail yang telah merenggut nyawa ibuku! inilah kali pertama aku merasakan pahitnya kehilangan. Hatiku hancur.
Hari kelam itu hari Jum'at, ibuku meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, satu hal yang paling aku sesali adalah disaat terakhir aku tak ada di sampingnya untuk menyentuh tangannya dan membisikkan ayat-ayat suci ditelinga kanannya..
Sore itu juga aku tiba di Garut, ibu akan dimakamkan di sana disandingkan dengan makam kakekku yang telah berpulang satu tahun sebelumnya. seiring dengan langkahku untuk mengantar ibu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, aku mulai sadar bahwa aku harus ikhlas pada keadaan, aku harus bertafakur pada keMAHAan ! inilah fase yang harus aku lalui. Jalan di depan mungkin berliku, tapi ada ibu di hatiku. Aku percaya itu. 
Akan ku buat ibu tersenyum di surga sana, tersenyum bangga melihat putranya, aku berjanji !!
Rhyme in Peace Mom.. :)