Entri Populer

Minggu, 07 Agustus 2011

Cerita Kecil untuk Tuhan..

  
Hari itu Desember akhir,
Pagi masih buta sekali, dunia masih tertidur di temani gerimis yang sejak malam hari merayu siapa saja untuk tetap menggeliat dalam hangat selimutnya terbuai dalam mimpi absurd sebagai pelarian dari kelaparan. Itulah kami, kaum marginal yang sering di anggap rendahan.
Malam itu aku terbangun dari tidur yang tak lelap. Mataku terjaga memandang bilik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman kayu sederhana, terkelupas di sana sini, warnanya kusam coklat kehitam-hitaman sampai semut yang melawatinya pun pasti akan berhati-hati, takut terjeblos karena memang kayu itu sudah renta, bahkan di beberapa bagian sudah berlubang, memang tidak heran pasti karena di gerogoti waktu selama 20 tahun lebih.
Lampu tempel yang hitam dan mengeluarkan bau pekat itu merupakan satu-satunya penerang dalam kamar ini selain cahaya bulan yang diam-diam mengintip dari celah yang basah, letaknya terkatung di dinding bersebelahan dengan kain lap kering dan tumpukan perkakas hampir rusak yang di simpan tak beraturan dalam karung, tak ada barang berharga, sama sekali! Tapi semuanya bermanfaat, paling tidak menurut ku. Sisanya hanya barang rongsokan yang beberapa tahun terakhir ini aku sebut "harta". Sebagian tanahnya tergenang karena langit-langit kamar tak kuasa bernegosiasi pada hujan, 1 ember 2 baskom dan 4 mangkuk bahkan tidak mampu menampung jatuhnya air yang tercecer di mana-mana, aku pasrah. Biarlah tanah meminum air hujan itu. Kamar yang sederhana saja, bahkan aku sangsi apakah ini bisa di sebut kamar?
Aku merebahkan tubuh yang kumal ini pada selembar tikar usang dengan rambut gimbal di topang tangan sebagai bantalku dan udara dingin sebagai selimutku, biarlah malam memelukku. Sunyi. Pikiranku mengawang, aku melamun tapi terjaga, meraba bayangan silam yang tak akan pernah aku lupakan. Kepingan sajak, puluhan cerita dan aklamasi puisi mungkin tak akan cukup mereka kisahku. Dan aku membenci kisah ku, hidup ku.
14 tahun sejak aku terbuang dari penciptaan yang tak pernah aku inginkan, aku di damparkan pada bumi lewat wanita yang sampai sekarang aku tidak tahu rimbanya bahkan tak tahu namanya. Jika orang menanyakan di mana aku lahir, sungguh aku tak sanggup menjawabnya. Aku tidak tahu aku di lahirkan yang aku tahu aku di campakkan, di buang dan kemudian di pungut ! Paling tidak begini yang di ceritakan mak Isah padaku.
Hari itu malam Jum’at pada penghujung Desember, sama dengan hari ini tapi aku tak tahu tanggal berapa. Hujan mencumbu bumi. Langit kelam dan mengancam. Tidak seperti biasanya kota metropolis ini dilumat dingin, sedingin penduduknya. Siapa saja pasti ingin berhangat-hangat dengan kasur empuk dan menggeliat dalam selimut.
Sudah pukul 02.00 dini hari tapi kota metropolis ini masih terbangun. Orang-orang masih ada yang hilir mudik mencari atap untuk sekedar berteduh. Begitupun dengan mak Isah. Perempuan paruh baya ini tergigil di pojok emperan toko, kakinya di silangkan dengan kedua tangan mendekap pada dada, giginya bergetar beradu, kepalanya tertunduk, matanya terpejam namun hatinya terjaga, ia berdoa.
Gerimis sudah reda, hanya beberapa jam mak Isah tertidur. Perut laparnya tak kuasa ia tahan. Mak Isah tergopoh membawa jasad yang pening mencari apa saja yang bisa ia makan, di mana saja ia menemukan. Sudah 2 tempat sampah ia lakoni, tapi hasilnya nihil, perutnya kian berontak. Di tengah perjalanannya menyisir puing, sayup terdengar suara tangis bayi. Ia tersenyum, barangkali ia bisa meminta sesuatu pada si Ibu pemilik bayi yang mungkin tengah terjaga. Mak Isah tertatih mencari sumber suara tersebut, namun justru suara itu menuntunnya pada sebuah gang kecil yang gelap. Suara itu kian nyaring.
“Astagfirullah, bayi siapa ini?!”  matanya melotot demi mendapati sorang bayi yang masih merah pada sebuah kardus mie instant, ia terbalut selimut tipis.
Dengan segera mak Isah menyadari bahwa bayi itu adalah bayi yang di buang, semula ia akan melaporkannya pada warga setempat. Namun mak Isah mengurungkan niatnya. Ia akan merawat dan membesarkannya di kampung halaman yang telah lama di tinggalkan, ia ingin pulang dan membentuk keluarga kecil di sana. Ya keluarga, sebuah kata yang sangat ia rindukan sejak 18 tahun yang lalu. Ia sebatang kara. Paling tidak saat ini ia tahu untuk apa ia hidup. Sayup adzan subuh berkumandang. Batinnya bergemuruh.
Aku menghela napas, menyumpahi hidup ku. Ku ambil secarik kertas. aku ingin sedikit mengeluh pada benda mati itu lewat tulisan sederhana. Gerimis belum juga reda.


Di Ujung Senja

Kayu layu ayu..
getah nanar petuah sang mpu
terjilat kaki-kaki kecil semut hilir
sudah sejak 12 windu yang lalu
berbisu sampai tak berbusa..
kakinya renta...
            Kayu layu ayu..
            urat berurat melepas tua yang sangat
            sekelilingnya? Acuh saja dengan taat
            baginya bumi khianat pada kompromi
            langit sakit tertular zaman edan
            sisa umurnya sedu sedan..
kayu layu ayu..
kulitnya tengik di serang terik
sekuat asa bersandar pada tanah yang haus
ternyata teman sejatinya masih tulus
kini baginya maut adalah harapan
hatinya terlampau senja ia tak kunjung datang
            Kayu layu ayu.. usang dan di lupakan
            Sudah sejak 12 windu yang lalu.. kelu..
           






                                                                                                Bersambung….