Entri Populer

Rabu, 14 September 2011

Cerita Kecil untuk Tuhan Part II

“Bumi, bangun Nak! Kita shalat subuh dulu!”  Suara Mak Isah parau.
Aku menggeliat. Membetulkan urat leher yang kaku terbentur gigil sejak malam tadi.
“iya Mak” Jawabku sambil mengumpulkan kesadaran, sisa mimpi semalam mulai menguap.
Aku bergegas hendak mengambil air wudhu di sumur yang terletak di belakang rumah. Namun rupanya Ember itu telah penuh terisi air. Mak Isah menyiapkannya untukku.
Aku hanya tinggal berdua dengan Mak Isah. ”Bumi” adalah nama yang disematkan Mak Isah padaku. Aku pernah bertanya mengapa Mak Isah memberiku nama “Bumi”. Dengan lirih mak Isah menjawab  “Mak ingin kamu menjadi  tempat yang melahirkan para rasul dan nabi, menjadi daratan yang di pijak para syuhada, menjadi udara yang di hirup Maryam, menjadi ladang dari para solihin”
Hatiku bergetar. Aku kembali bertanya “Bukankah bumi juga menjadi tempat bagi syetan dan iblis untuk menggoda manusia, Mak?”
Mak Isah tersenyum.
“Kamu adalah bumi yang dititipkan Allah untuk emak, emak ingin kamu menjadi bumi yang hanya di huni khalifah fisabilillah , bumi yang mejadi tangga untuk surga”.
Hatiku gerimis, haru.
...
Seperti biasa pagi ini aku memikul tempayan, berisi bermacam-macam kue pasar buatan Mak Isah. Aku berkeililing dari satu rumah ke rumah yang lain, tawar menawar pada rizki. Aku selalu ingat pesan mak bahwa sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dalam perdagangan. Sebenarnya aku kurang begitu mengerti, apa kita di suruh untuk berdagang? Makmur sekali orang-orang yang berjualan di pasar. Tapi kelihatannya tidak begitu.
Pagi aku berjualan, siangnya aku bersekolah. Aku beruntung masih bisa belajar trigonometri, sudah paham reaksi kimia asam basa, tidak lagi hanya tentang berhitung 1+1=2 atau mengeja i-n-i  i-b-u  b-u-d-i. Walau bersekolah di tempat yang amat biasa, tapi tak apa yang penting bersekolah! Kalimat yang begitu agung bagi anak-anak tukang sampah. Sekali lagi aku masih beruntung.
Sementara mak Isah sendiri bekerja dari subuh sampai menjelang magrib. Bekerja apa saja asal itu halal. Dari mulai kuli cuci, menjual kue, membersihkan makam sampai mengasuh bayi tetangga. Aku ingin sekali menggantikan Mak Isah bekerja, tapi ia melarangku. Tugasku cukup berjualan kue dan belajar saja, katanya.
Mak isah menggadai peluh demi biaya untuk ilmu yang kutuntut. Dua hal yang terpenting baginya adalah kesehatanku dan cita-citaku. Ia rela melucuti tulang belulangnya demi dua hal itu. Aku sangat menyayanginya dan ia pun sangat menyayangiku. Aku merasakan itu.
...
Sore itu menjelang maghrib seperti biasa Mak Isah tengah duduk-duduk di teras rumah, bersandar pada kayu yang telah lapuk. Ia beristirahat. Bau keringatnya selalu aku rindukan . Aku duduk di sampingnya, sambil memijat-mijat kakinya yang sudah menghitam, gosong terbakar sengat.
“Nak, ada PR dari sekolah?” Tanya Mak Isah.
“Ada Mak, nanti malam Bumi kerjakan” Jawabku datar.
“Bagaimana sekolahmu? Apa ada iuran yang belum kau lunasi? Masih ada buku yang harus di beli lagi, Nak?” Tanya Mak Isah halus.
“Insya Allah semua lancar-lancar saja kok Mak, tidak perlu ada yang Mak khawatirkan!” Aku menenangkan.
“Nak, kamu masih percaya pada cita-citamu kan?” Mak Isah membalikkan badan.
“Iya Mak” Jawabku lirih.
“Syukurlah, karena cita-citamu adalah cita-cita Mak” Mak isah menatap ku dalam-dalam.
Aku menghela nafas panjang. Senja masih merah. Biarlah aku menikmati sebentar lagi saat-saat pelarian ini, saat-saat candu bersama Mak. Saat saat saling menguatkan lewat tatapan cinta. Nafas Mak kurasakan masih hangat, seperti dahulu, tak pernah ada yang berubah sedikitpun. Hatiku teduh.
...
Baru sekali dalam seumur hidup ku Mak Isah alfa untuk membangunkan aku shalat subuh. Ada apa gerangan ?
Ku lihat wajah Mak Isah pucat, ku sentuh tangannya dingin, ku usap keningnya basah berpeluh. Mak Isah terbaring dengan menelungkupkan kedua tangannya, gigi rentanya gemeretak, matanya semakin terlihat sayu. Badannya bergetar gigil.
“Mak, kenapa Mak? Mak !” Aku khawatir bukan main.
Tak ada jawaban dari mak Isah, selain erangan dari jasad yang pesakitan itu.
“Mak ! kenapa?! Tolong ! Toloooong !!” kekhawatiranku semakin membuncah.
Aku meledak ledak, dengan segera aku membopong Mak Isah. Pikiranku sudah kacau! Rumah sakit ! harus segera di bawa kesana. Sekarang juga.
Dengan nafas terengah aku terus berjalan sambil terus menggendong jasad Mak Isah yang mulai kaku. Kemana orang-orang?! Memang pagi masih sangat buta, tapi kenapa orang-orang ini mesti tuli juga! Lelap membuat hati mereka lumpuh !
Sekuat tenaga aku menyeret kakiku, hingga sampai ke jalan besar. Tanpa pikir panjang aku berdiri di tengah jalan. Aku ingin memberhentikan apa saja yang bisa di jadikan tumpangan. Dengan segera sebuah mobil bak terbuka yang membawa sayur-sayuran berhenti di depanku.
“Hh.. hh.. Pak. Tolong.. hh pak.. rumah sakit !!” Aku memohon sambil tersengal-sengal.
Sepanjang perjalanan tak pernah henti doaku untuk emak sambil mengusap-usap keningnya yang tua.
....
20 menit kemudian.
“Maaf dek, kita berbeda arah sekarang. Di sini saja ya! Tuh di depan ada puskesmas ! Periksa di situ saja!” Sambil menunjuk ke arah sebuah puskesmas kecil yang terletak di ujung jalan.
“Ta.. tapi pak... “ Sergah ku.
“Periksa di situ saja, kita ini orang susah tak perlu macam-macam ! Sudah untung saya mau mengantarkanmu gratis !” Gertak supir itu.
“Baiklah, terima kasih” Aku turun sambil terus menggendong mak.
Sesampainya di puskesmas aku meminta bantuan kepada siapa saja yang ada di sana. Beberapa orang membantuku.
“Suster tolong ! Di mana dokternya? Di mana?!” Tanyaku pada seorang suster yang tengah berbaring di kursi malas.
“Hhoaam.. Dokternya belum datang, nanti saja jam 7 kesini lagi” jawab suster itu sambil terkantuk-kantuk.
“Tolong !  Lakukan apa saja untuk mak, apa saja ! Cepat !!” Aku mulai emosi.
“Duduk saja dulu di ruang tunggu ! paling-paling hanya demam, tunggu saja dokternya datang!”
Aku menahan emosiku, ku baringkan Mak di kursi panjang di ruang tunggu. Aku menunggu sambil berharap-harap cemas. Nadi mak kurasa kian lemah.
Satu jam kemudian seorang laki-laki paruh baya datang,  ia mengenakan jas serba putih sebagaimana dokter-dokter pada umumnya. Dengan segera aku menghampirinya.
“Dok, tolong dok! Cepaaat !” Sambil memegang tangannya.
Ia tersentak, namun tidak langsung beranjak. Ia memperhatikan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia berkata,
“Punya uang berapa, Nak?” Tanya dokter itu.
Aku menggeleng.
“Asuransi kesehatan punya?” Tanyanya lagi.
Aku menggeleng lagi. Sesaat kemudian aku tersadar, ia tengah menghina kemiskinanku ! tapi sekuat tenaga aku menahan emosi, aku sudah terbiasa di perlakukan seperti ini. Dengan segera aku berlutut di hadapannya, ku cium sepatunya yang hitam mengkilat, aku menangis tersedu-sedu.
“Dok yang penting tolonglah mak ku dulu, periksa penyakitnya. Akan ku lakukan apapun untuk membayarnya! Apapun! Tolong kami, Dok! Ku mohon.. Ku mohon!”
“Baiklah, bawa ke ruangan saya”
...
Dokter memeriksa mak ku di ruangannya. Aku menunggu di luar ruangan sambil terus bertasbih memohon pada sang Maha Hidup ! tampak suster lalu lalang di depanku, keluar masuk ruangan itu. Sepertinya tampak panik.
Belum genap 15 menit aku menunggu, dokter itu keluar. Ia tertunduk.
“yang tabah Dik”
Mata ku gelap, aku menghajar dokter itu sejadi-jadinya ! dan menghancurkan segala benda yang ada di dekat ku.
Aku tak pernah tahu kalau selama ini mak Isah mengidap penyakit yang begitu parah. Tak pernah sekali pun Mak isah menceritakan sakitnya itu pada ku, tak pernah ! Ia yang selalu memperhatikan aku, mengusap air mataku, mengembangkan senyumku, membelai keluh kesahku sampai-sampai lupa pada jasadnya sendiri.
Ku lihat wajah Mak lekat-lekat, sepertinya dia begitu muda. Sangat cantik. Air mukanya jelita. Mak Isah wafat di usia 74.  hatiku karam. Jika orang menyebut bahwa hidup seperti roda yang berputar maka aku tidak akan mengamini itu. Susah payah aku menahan layar dengan Mak sebagai nahkoda ku tapi samudera jua lah yang menenggelamkannya. Aku terdampar pada palung derita tak berujung, tersesat pada rimba gulita. Dan kini, aku menyerah pada kesebatang karaaanku, mencaci kelahiranku !
...
Dari balik jeruji besi, aku mengurung diri pada dunia. Ini keluh kesah untuk Mu wahai Zat penidur maut, air mata ku telah kering untuk menggoda-Mu. Terimalah dan bacalah surat ku, aku tunggu balasan-Mu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar