...
Seperti biasa,
jendela lentik berbinar pada risau
kerak congkak luntur di usia
setia pada hangat dan gigil
menjaga pemilik cinta dari baliknya
Seperti biasa,
aku menjemput dengan raut
mengintip dari sela-sela kerikil
si jasad miskin ingin rujuk dengan takdir
mencinta cinta sampai akhir
Sudikah kau membuka pintu angkuh itu?
sambil membawa secangkir teh hangat
dan menuangkannya pada dahaga yg sangat?
atau tetap saja si cumbu mesra pada cibir
tetap seperti serdadu lumpur yang mengiba pada pengantin pasir
Pagi terakhir, untuk mengasihani harap
apakah akan terdengar lagi dawai biola yang kau petik kemarin
dan setia menjadi teman tidur setiap purnama?
atau pupus pulang menggandeng simpan
merayakan sepi bersama mereka yg memuja hujan.
...
